Home / Nusantara / Wamen KOMDIGI Nezar Patria di Halaman Jeda, Bicara Masa Depan Aceh dengan Digital

Wamen KOMDIGI Nezar Patria di Halaman Jeda, Bicara Masa Depan Aceh dengan Digital

LINTASNUSANTARANEWS.ID | BANDA ACEH — Sebuah halaman rumah pada Minggu malam bertransformasi menjadi ruang perjumpaan lintas sektor yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan generasi muda guna membahas arah masa depan Aceh di era modern.

​Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, hadir langsung dalam forum bertajuk “Halaman Jeda” tersebut untuk berdialog secara interaktif dalam suasana yang hangat dan tanpa sekat birokrasi.

​Forum strategis ini turut dihadiri oleh sejumlah pimpinan dan akademisi perguruan tinggi terkemuka. Dari Universitas Syiah Kuala (USK) hadir Wakil Rektor Dr. Ramzi Andriman, Dekan Fakultas Teknik Prof. Dr. Ir. Iskandar, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Dr. A. Sakir, Wakil Dekan Dr. Muhammad Abrar, serta Wakil Dekan Fakultas Teknik Prof. Dr. Ir. Sugiarto. Hadir pula unsur akademisi lainnya, termasuk Ketua Departemen Teknik Mesin dan Industri, Dr. Ir. Akram, S.T., M.T.

​Selain itu, dunia pendidikan tinggi turut diwakili oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Dr. Marlizar, S.E., M.M. Hadir pula Ketua Harian Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi (IKAFENSY), Ir. Zubir Husen, Ketua ORGANDA Banda Aceh, Fadli, beserta sejumlah pelaku usaha, serta perwakilan generasi muda yang dipimpin oleh Ketua HMI Fakultas Ekonomi, Teuku Ariel Hidayat.

​Kehadiran komposisi peserta yang beragam ini berhasil merajut kolaborasi empat pilar pembangunan: pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan generasi muda, dalam satu meja dialog.

​Menyongsong Masa Depan Digital Aceh
​Dalam diskusi tersebut, isu utama yang diangkat adalah bagaimana Aceh dapat merespons dinamika perubahan global melalui pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), kreativitas, dan penguatan talenta sumber daya manusia.

​Nezar Patria dalam pemaparannya mengingatkan kembali posisi historis Aceh sebagai wilayah strategis perlintasan bangsa-bangsa di masa lalu. Selat Malaka pernah menjadi salah satu pusat perdagangan dunia, di mana Aceh memegang peran sebagai simpul penting dalam jaringan tersebut.

​Namun, lanskap global saat ini telah bergeser. Meskipun pelabuhan dan sarana fisik tetap penting, roda perekonomian dan perdagangan dunia masa kini semakin digerakkan oleh arus data, penguasaan teknologi, inovasi, serta kapasitas manusia dalam menciptakan nilai tambah.

​”Pertanyaan bagi Aceh hari ini bukan lagi sekadar apa yang kita miliki, melainkan apa yang mampu kita ciptakan,” ujar Nezar di hadapan para peserta forum.

​Melalui kolaborasi lintas sektor yang terbangun—di mana kampus menghadirkan ilmu pengetahuan, pemerintah merumuskan kebijakan, dunia usaha membuka akses pasar, serta generasi muda menyumbangkan kreativitas dan keberanian—Aceh dinilai memiliki peluang besar untuk membangun kekuatan ekonomi baru. Transformasi ini diarahkan agar Aceh tidak lagi sekadar bergantung pada penjualan sumber daya alam mentah, tetapi bertransformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), teknologi, kreativitas, dan produk bernilai tambah tinggi.

​Lebih dari sekadar pertemuan rutin, Halaman Jeda dirancang sebagai ruang refleksi dan titik awal untuk merumuskan percakapan yang lebih besar. Forum ini mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh untuk memanfaatkan warisan sejarah, posisi geografis yang strategis, potensi SDM, serta penetrasi teknologi digital sebagai fondasi utama membangun masa depan daerah.

​Dari sebuah halaman rumah sederhana di Banda Aceh, percakapan penting itu telah dimulai: berhenti sejenak, berpikir bersama, dan bersiap melangkah nyata untuk masa depan Aceh yang lebih maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *