LINTASNUSANTARANEWS.ID | JAKARTA-Sejak beberapa tahun terakhir, Dimas (24) mulai mempertimbangkan untuk membeli mobil listrik pertamanya. Pria asal Tangerang itu bahkan mengaku sudah hampir mantap menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan keempat yang mengisi garasi rumahnya.
Salah satu alasan terbesar yang membuatnya tertarik beralih ke mobil listrik adalah potensi penghematan biaya operasional, terutama untuk memangkas pengeluaran bahan bakar minyak (BBM). Di tengah tren kenaikan harga BBM di Indonesia, mobil listrik menurutnya menjadi pilihan yang semakin masuk akal secara ekonomi.
Bagi Dimas, persoalan nilai jual kembali (resale value) yang kerap menjadi kekhawatiran calon pembeli bukan lagi menjadi pertimbangan utama. Ia memandang mobil listrik bukan sebagai aset yang akan segera dijual kembali, melainkan kendaraan yang akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dalam jangka panjang.
Meski demikian, langkahnya untuk segera meminang mobil listrik belum sepenuhnya bulat. Di balik keyakinannya, Dimas masih menyimpan sejumlah kekhawatiran, terutama soal daya tahan performa mobil listrik jika digunakan bertahun-tahun. Ia juga mempertanyakan kesiapan layanan purnajualĀ (after sales)Ā kendaraan listrik yang menurutnya belum tentu mampu menyamai layanan mobil konvensional berbasis mesin pembakaran internal.āKalau misalnya kayak mobil bensin, mau dipakai berapa [tahun pun], 20 tahun, berpuluh-puluh tahun, ya sudah, kalau rusak adaĀ spare part-nya yang bisa diganti. Maksudnya kalau mobil listrik kan baterai, gitu loh. Kalau rusak, berarti harus digantiĀ the whole battery-nya,ā kata Dimas saat dihubungi Tirto pada Selasa (7/7/2026).Keraguan seperti yang dirasakan Dimas ternyata juga muncul di benak banyak calon pengguna kendaraan listrik. Di satu sisi, minat masyarakat terhadap kendaraan listrik terus menunjukkan tren positif. Di sisi lain, masih ada berbagai kekhawatiran yang membuat sebagian orang menunda keputusan untuk membeli.
Gambaran tersebut terlihat dalam survei mandiri Tirto bekerja sama dengan Jakpat yang dilakukan pada 13ā14 Juli 2026 terhadap 1.500 responden di 34 provinsi di Indonesia. Mayoritas responden berasal dari Pulau Jawa, yakni Jawa Barat (24,32 persen), Jawa Timur (14 persen), Jawa Tengah (12 persen), dan DKI Jakarta (11,92 persen). Sementara itu, responden dari luar Pulau Jawa mencapai 30,16 persen.
Dari sisi pendidikan, mayoritas responden merupakan lulusan SMA/sederajat (49,04 persen), disusul lulusan sarjana (32,03 persen). Berdasarkan status sosial ekonomi (socioeconomic status/SES), kelompok terbesar berasal dari kategoriĀ middle 1Ā (37,68 persen), diikutiĀ upper 2Ā (21,68 persen) danĀ middle 2Ā (19,20 persen).7 dari 10 Responden Tertarik Kendaraan Listrik
Hasil survei menunjukkan, sebanyak 70,96 persen responden menyatakan tertarik memiliki kendaraan listrik atau membeli kembali kendaraan listrik dalam lima tahun mendatang. Sebaliknya, hanya 11,6 persen responden yang mengaku kurang tertarik atau sama sekali tidak berminat memiliki kendaraan listrik.Temuan tersebut sejalan dengan hasil surveiĀ Tirto dan Jakpat pada 2023. Kala itu, 82,8 persen responden menyatakan berminat membeli mobil listrik, baik dalam waktu dekat maupun pada masa mendatang. Hanya 17,2 persen yang mengaku tidak tertarik sama sekali. Artinya, kedua survei sama-sama menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap kendaraan listrik tetap berada pada level yang tinggi.Lantas, apa yang membuat masyarakat tertarik beralih ke kendaraan listrik?
Alasan Masyarakat Mulai Melirik Kendaraan Listrik
Di balik tingginya minat tersebut, pertimbangan ekonomi masih menjadi faktor yang paling kuat mendorong masyarakat melirik kendaraan listrik.
Survei Tirto dan Jakpat menunjukkan, sebanyak 72,04 persen responden tertarik memiliki kendaraan listrik karena berharap dapat mengurangi konsumsi BBM. Selain itu, 64,6 persen responden menilai kendaraan listrik lebih ramah lingkungan, sedangkan 61,89 persen menyebut biaya operasional yang lebih hemat sebagai daya tarik utama.
Pola ini nyaris tidak berubah dibandingkan hasil survei Tirto pada 2023. Saat itu, alasan yang paling banyak dipilih responden juga berkaitan dengan efisiensi penggunaan BBM (70,9 persen) dan anggapan bahwa kendaraan listrik lebih ramah lingkungan (69,9 persen).
Pandangan tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian menunjukkan emisi gas rumah kaca kendaraan listrik sepanjang siklus penggunaannya cenderung lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak, terutama ketika pasokan listrik semakin banyak berasal dari sumber energi rendah emisi.Keunggulan dari sisi biaya operasional pun relatif mudah dihitung. Berdasarkan simulasi PLN, ongkos energi mobil listrik dapat ditekan hingga sekitar seperenam dibandingkan mobil berbahan bakar minyak. Secara sederhana, energi dalam satu liter BBM setara dengan sekitar 1,2 kWh listrik. Dengan tarif listrik rumah tangga nonsubsidi sebesar Rp1.352 per kWh, biaya untuk memperoleh energi tersebut hanya sekitar Rp1.624. Sebagai perbandingan, harga Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp19.000 per liter, bergantung pada wilayah.
Di luar pertimbangan biaya, aspek teknologi juga menjadi magnet tersendiri. Sebanyak 42,73 persen responden mengaku tertarik karena menilai kendaraan listrik menawarkan teknologi yang lebih modern. Sementara itu, insentif pemerintah hanya dipilih oleh 12,4 persen responden, sedangkan faktor gengsi atau prestise menjadi alasan bagi 4,62 persen responden. (Sumber : Tirto.id)
















