LINTASNUSANTARANEWS.ID | SEMARANG- Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Moh. Miftahul Arief resmi meraih gelar Doktor Studi Islam dari UIN Walisongo Semarang dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 dari skala 4,00. Perjalanan menuju gelar itu jauh dari mudah. Semasa kuliah, Arief pernah berjualan koran di lampu merah Kalibanteng, samping Museum Ranggawarsito Semarang, demi membantu membiayai hidup dan pendidikannya.
“Dulu, mengantar keluarga yang ujian terbuka sudah senang sekali bisa foto di photobooth-nya. Tapi tak terbesit kuliah S3, mengingat usia sudah tidak muda dan biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit,” kata Arief, dikutip dari laman resmi UIN Walisongo, Senin (5/10/2026).
Mengajar Pagi, Menjaga Toko Buku hingga Malam
Arief mulai menjadi guru pada 2005, namun ia juga harus menjalani pekerjaan lain. Pagi hingga siang ia mengajar, lalu menjaga salah satu outlet Toko Buku Gramedia Pandanaran Semarang hingga pukul 22.00 WIB. Bersama istrinya, bermodal satu komputer, ia juga pernah membuka usaha pengetikan di rumah.
“Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu saya berpikir sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja,” ujarnya.
Menurut Arief, pekerjaan apa pun sah dilakukan selama halal dan thayib (baik). Prinsip itu pula yang membuatnya sempat menjadi sopir taksi online, pekerjaan yang dianggapnya bermanfaat ganda: mencari nafkah sekaligus memperluas relasi.
Kepala Madrasah Berprestasi dan Pendiri Bimbel
Setelah lima tahun menjadi guru, Arief dipercaya menjadi Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah pada 2010-2022. Pada 2020, pengurus LP Ma’arif Jawa Tengah ini dinobatkan sebagai Kepala Madrasah Berprestasi oleh Kementerian Agama Kota Semarang.
Di luar madrasah, sejak 2014 ia mengembangkan Bimbingan Belajar AIO (dikenal sebagai Aioprivat), les privat yang populer di Kota Semarang. Usaha itu menjadi ruang menerapkan keterampilan manajerial pendidikan sekaligus sumber penghasilan.
“Alhamdulillah, saya mendirikan Bimbel AIO atau dikenal orang Aioprivat karena basic saya guru dan memiliki pengalaman manajerial pendidikan, ya itung-itung berbisnis sekaligus penyaluran skil,” ungkapnya.
Menulis Disertasi di Samping Ranjang Ibu
Di tengah penelitiannya, Arief harus membagi waktu dengan keluarga dan merawat ibunya yang menderita penyakit komplikasi dan berulang kali menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Ia mendampingi langsung proses pengobatan, sementara neneknya merawat anak-anak yang masih kecil di rumah.
Waktu di rumah sakit ia manfaatkan untuk mengerjakan disertasi di laptop. “Sebagian disertasi ini saya kerjakan di kamar geriatri RS Kariadi. Saat ibu dirawat, saya menunggu sendiri, mengantar dan menjemputnya, sekaligus menyelesaikan berbagai bagian penelitian di samping tempat tidurnya,” tuturnya.
Arief berharap ibunya dapat menyaksikan langsung momen promosi doktornya yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun. Namun sang ibu meninggal dunia tahun lalu.
Karena itu, Arief memaknai gelar doktornya lebih dari sekadar pencapaian akademik. “Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibu saya, perempuan hebat yang tak lulus Madrasah Aliyah dan memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya,” tutupnya.
Dalam ujian promosi doktor, Arief mempertahankan disertasi berjudul Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan.
Pernah Jualan Koran di Lampu Merah, Guru MI Ini Kini Raih Gelar Doktor dengan IPK 3,98




















