Jakarta

Warga Kolong Tol Jakarta Baru Tahu Tak Tercatat Desil, Tak Pernah Dapat Bansos Apapun

3
×

Warga Kolong Tol Jakarta Baru Tahu Tak Tercatat Desil, Tak Pernah Dapat Bansos Apapun

Share this article

LINTASNUSANTARANEWS.ID | JAKARTA-Yani (27) masih mengingat masa ketika tempat tinggalnya di kolong tol kawasan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, digusur pada 2016. Saat itu, dia bersama warga lainnya sempat bertahan dalam kondisi tanpa lampu selama berbulan-bulan. “Kita selama 6 bulan apa 3 bulan ya enggak pakai lampu,” ucap Yani saat ditemui Kompas.com, Jumat (18/9/2026).

Sebagian warga memilih pindah ke rumah susun setelah penggusuran. Sebagian lainnya tetap bertahan di kolong, termasuk Yani.

Waktu berlalu. Tempat itu tetap menjadi bagian dari kehidupan Yani.Kini, ia telah berkeluarga dan memiliki seorang anak berusia 4 tahun.Ia mengungkapkan alasannya tidak pindah ke rumah susun yang disiapkan pemerintah, takut tidak kuat bayar uang sewa. “Enggak kuat juga (bayar uang sewanya). Bansos aja enggak dapat,” ujar dia saat ditanya apabila ada pilihan pindah ke rusun. Data Desil Kosong Di tengah kondisi tersebut, Yani mengaku dirinya tidak pernah menerima bantuan sosial sama sekali.”Enggak pernah. Bantuan apa-apa enggak pernah dapat,” tutur dia. Ia mengaku merasa heran dengan situasi tersebut. Ia bahkan mempertanyakan kenapa bantuan berbentuk Program Keluarga Harapan (PHK) yang notabene untuk anak-anak juga tidak pernah ia dapatkan. “Dengar-dengar ya, katanya kan bantuan anak juga ada ya? Tapi selama anak saya dari nol sampai kemarin, belum pernah dapat. Anaknya 4 tahun. Dari nol nol, dari selama dia lahir gitu ya sampai 4 tahun, saya belum pernah dapat bantuan apa-apa,” kata dia.Belakangan ini, ia baru mengetahui data desilnya kosong saat mengecek di situs Kementerian Sosial.

“Nih kayak gini. Kosong kan, enggak ada apa-apa. Emang kayak gini nih, enggak ada desil. Kayak ngelihat orang-orang pada dapat bantuan apa, cuma saya enggak pernah dapat,” ujar dia sambil menunjukkan laman cek bansos dari ponselnya kepada Kompas.com.Ia bercerita pernah menanyakan persoalan bantuan sosial kepada pihak RT.

Saat itu, Yani mengatakan RT menyampaikan akan mengajukannya. “Ya udah entar saya ajukan,” ujar Yani menirukan jawaban RT. Namun, jawaban yang ia terima masih tidak sesuai harapan.”Ya udah itu mah kan sabar dulu aja, mungkin bukan rezeki kamu, belum rezeki kamu,” ucap dia. Meski begitu, Yani tetap berharap bisa merasakan bantuan seperti warga lainnya.

Bagi dia, bentuk bantuan apa pun tidak menjadi persoalan. Ia hanya ingin merasakan bantuan yang selama ini menurutnya diterima warga lain. “Ya apa aja, yang penting ya kayak umumnya orang aja dapat ini, dapat bantuan itu gitu. Pengin kayak ya kayak orang-orang lah gitu ngerasain dapat bantuan,” ungkap dia.

Susu Anak Sulit Dibeli Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Yani bekerja sebagai pemulung. Suaminya bekerja sebagai tukang parkir. Penghasilan Yani dari memulung tidak selalu sama setiap hari. Semuanya bergantung pada hasil timbangan barang yang ia dapatkan. “Ya tiap hari ditimbang kadang dapat Rp 50.000, paling kecil ya paling Rp 40.000,” ungkap dia. Di tengah penghasilan yang terbatas, kebutuhan anak tetap harus dipenuhi.

Salah satunya susu untuk anaknya yang masih berusia 4 tahun. Belakangan ini, Yani mengaku harus mengganti merek susu yang sebelumnya dikonsumsi anaknya karena harganya yang semakin mahal. “Dia kan (anak Yuni) masih butuh susu juga, susu ya terlalu mahal. Jadi saya pakai biasa aja,” ucap dia sambil tertawa. Kebutuhan sehari-hari itulah yang harus ia sesuaikan dengan penghasilan dari memulung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *