LINTASNUSANTARANEWS.ID | HISTORY- Nama Syekh Yusuf al-Makassari tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Islam di Nusantara. Jejak perjuangan, keilmuan, dan dakwah ulama asal Sulawesi Selatan itu menembus berbagai wilayah dunia, dari Nusantara hingga Sri Lanka dan Afrika Selatan.
Lebih dari tiga abad setelah wafatnya, warisan Syekh Yusuf kembali dihadirkan dalam ruang kebudayaan internasional. Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) membawa kisah perjalanan hidup dan perjuangan ulama tersebut ke Amsterdam, Belanda, melalui pameran sejarah, seminar ilmiah, dan pemutaran film.
Pameran bertajuk Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makassari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity digelar di Indonesia House Amsterdam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan intelektual dan perjuangan Syekh Yusuf kepada masyarakat internasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Syekh Yusuf merupakan salah satu tokoh penting yang menghubungkan sejarah Indonesia dengan Afrika Selatan. Pengaruhnya tidak hanya terlihat dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam perjuangan melawan kolonialisme dan pembentukan komunitas Muslim di Cape Town.
Ulama, Pejuang, dan Pengembara Ilmu
Syekh Yusuf al-Makassari dikenal sebagai ulama dan sufi yang memiliki perjalanan hidup panjang serta penuh pergulatan dengan kekuasaan kolonial.
Dalam sejarah Banten, Syekh Yusuf tercatat mendukung Sultan Ageng Tirtayasa dalam menghadapi kekuatan VOC. Perjuangan tersebut membuatnya menjadi salah satu tokoh yang diperhitungkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pada 1683, Syekh Yusuf ditangkap oleh Belanda. Setahun kemudian, ia diasingkan ke Sri Lanka. Namun, pengasingan tersebut tidak menghentikan aktivitas keilmuannya.
Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap berdakwah dan mengembangkan jaringan keilmuan. Perjalanan hidupnya kemudian berlanjut ketika pemerintah kolonial Belanda memindahkannya ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.
Pengasingan yang dimaksudkan untuk menjauhkan Syekh Yusuf dari jaringan perjuangannya justru membawa pengaruh Islam Nusantara ke wilayah baru.
“Pengasingan Syekh Yusuf dimaksudkan untuk memisahkannya dari masyarakat dan jaringan yang selama ini mendukung perjuangannya. Namun, gagasan dan pengaruhnya tidak pernah terputus,” kata Fadli Zon.
Di Cape Town, Syekh Yusuf terus mengajarkan agama dan menjadi salah satu pusat kehidupan spiritual komunitas Muslim.
Menurut Fadli, pengaruh tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang melalui keberadaan makam Syekh Yusuf dan komunitas yang menjaga ingatan sejarahnya.
Dari Makassar ke Cape Town
Perjalanan Syekh Yusuf menunjukkan bahwa sejarah Islam Nusantara sejak berabad-abad lalu memiliki hubungan yang luas dengan dunia internasional.
Dakwah dan keilmuan ulama Nusantara tidak berhenti di wilayah kepulauan Indonesia. Jaringan ulama, perdagangan, perjalanan, dan pengasingan politik turut membawa gagasan keislaman Nusantara ke berbagai wilayah.
Dalam konteks tersebut, Syekh Yusuf menjadi salah satu figur yang memperlihatkan bagaimana seorang ulama dapat meninggalkan pengaruh jauh melampaui tempat kelahirannya.
Fadli mengatakan Kemenbud ingin menjadikan warisan Syekh Yusuf sebagai pintu masuk untuk membangun kesinambungan dialog kebudayaan antara Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan.
“Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town,” ujarnya.
Menurut dia, upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui pameran, tetapi juga melalui rencana pendirian rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town.
Kehadiran lembaga kebudayaan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan sejarah hubungan Indonesia dan Afrika Selatan sekaligus merawat warisan masyarakat keturunan Nusantara di Afrika Selatan.
Menghidupkan Kembali Sejarah Masyarakat Nusantara di Cape Town
Kisah Syekh Yusuf juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat asal Indonesia yang turut membentuk kehidupan sosial dan kebudayaan Cape Town.
Hal itu antara lain diangkat melalui pameran There Was Something Here Before yang berlangsung di Erasmus Huis, Jakarta, pada 3 Oktober hingga 23 Desember 2026.
Pameran tersebut menampilkan kontribusi masyarakat asal Nusantara, termasuk dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, dalam membentuk kehidupan masyarakat Cape Town.
Masyarakat Nusantara membawa berbagai unsur kebudayaan seperti pengetahuan, kepercayaan, bahasa, makanan, keterampilan, serta tradisi.
Kurator sekaligus penggagas pameran, Zahira Asmal, mengatakan sejarah sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh kelompok yang tercatat dalam narasi utama, tetapi juga oleh komunitas yang datang, hidup, bekerja, dan membangun kehidupan di dalamnya.
“Pameran ini mengajak kita memikirkan siapa sebenarnya yang membentuk sebuah kota. Siapa yang membangunnya, merawatnya, membawa pengetahuan, menciptakan kebudayaan, dan berjuang untuk menjadikannya rumah,” katanya.
Menurut Zahira, banyak dari mereka berasal dari Indonesia dan hingga kini masih memberikan pengaruh terhadap kehidupan Cape Town.
Warisan Islam Nusantara untuk Generasi Mendatang
Pameran mengenai sejarah tersebut dikemas secara multimedia dengan memadukan penelitian, arsip, fotografi, suara, karya seni, kesaksian personal, serta desain interaktif.
Bagi Kemenbud, menghadirkan kembali kisah Syekh Yusuf dan masyarakat Nusantara di Afrika Selatan bukan sekadar mengenang masa lalu. Sejarah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memahami perjalanan panjang Islam Nusantara dan kontribusinya terhadap dunia.
Syekh Yusuf memperlihatkan bahwa dakwah tidak selalu berlangsung dalam keadaan mudah. Ia menjalani perjalanan panjang, menghadapi penangkapan, pengasingan, serta perpindahan dari satu wilayah ke wilayah lain. Namun, perjalanan tersebut justru memperluas ruang pengaruh ilmu dan dakwahnya.
Warisan Syekh Yusuf juga menunjukkan bahwa Islam Nusantara memiliki sejarah keterhubungan dengan dunia yang jauh lebih luas. Dari Sulawesi Selatan, Banten, Sri Lanka hingga Cape Town, jejak seorang ulama Nusantara dapat ditemukan dalam perjalanan sejarah masyarakat Muslim lintas benua.
Fadli menilai sejarah semacam itu penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi baru.
“Selalu ada sesuatu yang hadir sebelum apa yang kita lihat hari ini. Ada kehidupan, perjalanan, perjuangan, dan komunitas. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan sejarah tersebut agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru,” pungkasnya.
Jejak Syekh Yusuf akhirnya bukan sekadar kisah seorang ulama yang diasingkan oleh kekuasaan kolonial. Ia menjadi bagian dari sejarah panjang Islam Nusantara yang menembus batas geografis, menghubungkan Asia Tenggara dengan Afrika, sekaligus meninggalkan warisan ilmu, spiritualitas, persaudaraan, dan perjuangan yang terus dikenang hingga hari ini.




















