LINTASNUSANTARANEWS.ID | MAGETAN- Limbah pertanian dan peternakan di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Melalui program Pengembangan Kawasan Terpadu Berbasis Integrasi Sistem Agroenergi (PKT BISA), Pupuk Kaltim mengolah limbah organik menjadi biogas yang digunakan untuk mendukung pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga kebutuhan energi rumah tangga.
Program tersebut dikembangkan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni menghubungkan berbagai potensi desa agar saling memberikan manfaat. Tidak hanya limbah pertanian dan peternakan, program juga mengintegrasikan sektor perikanan, pengolahan kompos, serta kelompok usaha masyarakat.
Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra mengatakan PKT BISA dirancang untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan.
“Pupuk Kaltim mengembangkan PKT BISA dengan pendekatan ekonomi sirkular untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Rafli dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Program tersebut telah dikembangkan sejak 2021. Limbah peternakan dan perikanan dimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan energi dan kompos, sementara hasil pertanian dan perikanan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah oleh kelompok usaha masyarakat.
Limbah Diubah Menjadi Energi
Salah satu pengembangan terbaru PKT BISA adalah integrasi sistem agroenergi melalui pengolahan limbah pertanian dan peternakan menjadi biogas.
Energi yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari proses pengeringan hasil pertanian, kegiatan produktif UMKM, hingga kebutuhan energi rumah tangga masyarakat rentan di sekitar kawasan.
“Prinsip yang kami dorong bagaimana potensi yang ada di desa dapat saling terhubung. Limbah dari satu aktivitas dapat menjadi input bagi aktivitas lainnya, sehingga tercipta siklus yang memberi manfaat kembali bagi masyarakat,” kata Rafli.
Menurutnya, pemanfaatan limbah sebagai sumber energi juga memberikan manfaat lingkungan. Limbah organik yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat dikelola menjadi sumber energi yang memiliki nilai guna.
Dengan demikian, persoalan limbah tidak hanya diselesaikan dari sisi lingkungan, tetapi juga diubah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Pertanian hingga UMKM Terintegrasi
Pengembangan PKT BISA juga mencakup sektor pertanian. Di Babadan, program tersebut disebut telah membantu petani meningkatkan intensitas panen hingga empat kali dalam setahun.
Pendampingan dilakukan melalui program Agrosolution dengan total lahan yang dikelola mencapai 19,1 hektare.
“Program juga mengintegrasikan kelompok pertanian, peternakan, perikanan, kompos, serta UMKM dan kelompok perempuan dalam satu ekosistem pemberdayaan,” ujar Rafli.
Pada sektor peternakan, pendampingan difokuskan pada peningkatan kualitas pakan sekaligus pengelolaan usaha. Sementara itu, hasil budidaya perikanan dikembangkan menjadi produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan kelompok usaha masyarakat.
Model tersebut membuat setiap sektor tidak berjalan sendiri. Limbah dari peternakan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi dan kompos, sementara hasil pertanian, peternakan, dan perikanan dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Raih Penghargaan Gold
Program PKT BISA di Desa Kepuhrejo turut memperoleh penghargaan CSR & PDB Awards 2026 dengan predikat Gold dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Ke depan, Pupuk Kaltim memproyeksikan kawasan tersebut berkembang menjadi pusat agroedukasi terpadu. Pengembangan juga diarahkan pada perluasan jaringan pemasaran produk yang dihasilkan masyarakat.
Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Riza Patria mengapresiasi keterlibatan dunia usaha dalam mendukung pembangunan desa melalui program tanggung jawab sosial.
“Kami mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa. Kami harap kolaborasi seperti ini terus diperkuat, karena pembangunan desa membutuhkan sinergi seluruh pihak. Kalau desanya maju, Indonesianya maju,” kata Riza.
Melalui integrasi pertanian, peternakan, perikanan, energi, kompos, dan UMKM, PKT BISA diarahkan bukan sekadar menjadi program pengelolaan limbah, tetapi menjadi model pemberdayaan ekonomi desa yang memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Pupuk Kaltim Ubah Limbah Pertanian dan Peternakan Jadi Biogas, Dorong Ekonomi Desa




















