Ekonomi

Kargo Udara Dunia Terus Tumbuh, Momentum bagi Indonesia Memperkuat Industri Dirgantara

6467
×

Kargo Udara Dunia Terus Tumbuh, Momentum bagi Indonesia Memperkuat Industri Dirgantara

Share this article

LINTASNUSANTARANEWS.ID | JAKARTA- Ketika perdagangan global terus berekspansi, kargo udara ikut melaju. Bagi Indonesia, negara kepulauan di kawasan dengan pangsa kargo udara terbesar dunia, data terbaru ini bisa menjadi alasan kuat untuk lebih bergairah membangun sektor dirgantara nasional.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mencatat permintaan kargo udara global, yang diukur melalui cargo tonne-kilometers (CTK), tumbuh 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026. Untuk operasi internasional, pertumbuhannya mencapai 5,3 persen. Seluruh kawasan dunia mencatat kenaikan permintaan.
Asia-Pasifik: pasar terbesar, kapasitas tertinggal
Berdasarkan pangsa CTK industri pada 2025, Asia-Pasifik menguasai 35,8 persen, terbesar di dunia, mengungguli Amerika Utara (24,6 persen) dan Eropa (21,4 persen). Pada Agustus 2026, permintaan kargo di kawasan ini tumbuh 4,3 persen, sementara kapasitasnya naik 1,2 persen.
Selisih itu menunjukkan permintaan bergerak lebih cepat daripada kapasitas. Bagi negara yang ingin merebut peran lebih besar di kawasan, mulai dari maskapai, bandara, kargo, hingga perawatan pesawat, kondisi ini membuka ruang untuk masuk.
Perdagangan Asia kian padat
Rute Asia-Amerika Utara tumbuh 13,2 persen secara tahunan, tertinggi di antara rute utama, dan telah naik tujuh bulan berturut-turut. Rute dalam kawasan Asia tumbuh 6,1 persen dan tercatat naik selama 34 bulan berturut-turut. Rute Eropa-Asia naik 3,1 persen selama 42 bulan berturut-turut.
Latar belakangnya adalah perdagangan barang global yang tumbuh 6 persen pada Juli 2026, dengan ekspansi tahunan selama 33 bulan beruntun. Indikator manufaktur juga mendukung: Global Manufacturing Output PMI naik menjadi 53,0 dan New Export Orders Index menjadi 51,4. Ini menandakan tren yang berlangsung konsisten, bukan lonjakan sesaat.
Tantangan: biaya bahan bakar
Peluang ini datang bersama tekanan biaya. Harga avtur naik 8,3 persen secara bulanan pada Agustus 2026 dan 79,2 persen lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025. Tingkat keterisian kargo (cargo load factor/CLF) global berada di 46 persen, naik 2 poin persentase secara tahunan.
“Permintaan yang kuat dan tingkat keterisian yang lebih tinggi membantu maskapai penerbangan memulihkan sebagian dari biaya bahan bakar yang sangat tinggi,” kata Senior Vice President Sustainability and Chief Economist IATA Marie Owens Thomsen, dikutip Minggu (4/10/2026). Yield kargo juga naik secara bulanan untuk pertama kalinya sejak April, ketika periode puncak akhir tahun mulai mendekat.
Pelajarannya, pertumbuhan permintaan perlu disertai efisiensi operasi dan pengelolaan biaya agar pelaku industri benar-benar menikmati hasilnya.
Pelajaran dari kawasan lain
Data IATA juga memberi peringatan. Rute yang terhubung dengan kawasan Teluk masih tertekan: Eropa-Timur Tengah terkontraksi 12,1 persen dan Timur Tengah-Asia turun 11 persen, keduanya selama enam bulan berturut-turut. Di Afrika, kapasitas melonjak 14 persen, jauh melampaui pertumbuhan permintaan yang 3 persen. Ekspansi tanpa memperhitungkan permintaan dan stabilitas rute berisiko menekan keterisian.
Peluang yang perlu disambut
Sebagai negara kepulauan yang menghubungkan banyak pulau dan berada di jalur perdagangan Asia, Indonesia memiliki alasan geografis untuk memperkuat ekosistem dirgantara. Dengan perdagangan Asia yang terus padat dan permintaan yang lebih cepat dari kapasitas, momentum ini layak dimanfaatkan lewat kolaborasi pemerintah, maskapai, pengelola bandara, dan industri pendukung.
IATA saat ini mewakili lebih dari 370 maskapai yang mencakup sekitar 85 persen lalu lintas udara global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *