Ekonomi

Megaproyek Data Center Indonesia: Investasi Triliunan, Energi Besar, Nilai Tambah Jadi Pertanyaan

5542
×

Megaproyek Data Center Indonesia: Investasi Triliunan, Energi Besar, Nilai Tambah Jadi Pertanyaan

Share this article

LINTASNUSANTARANEWS.ID | JAKARTA- Indonesia tengah memasuki fase baru ekonomi digital. Pemerintah agresif menarik investasi pusat data atau data center dengan menawarkan ketersediaan energi, wilayah yang luas, serta pertumbuhan kebutuhan komputasi akibat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), komputasi awan, dan digitalisasi.
Investasi tersebut membawa peluang ekonomi yang besar. Namun, di balik nilai proyek yang mencapai triliunan rupiah, terdapat biaya ekonomi yang perlu dihitung secara lebih menyeluruh.
Data center membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar, sistem pendinginan yang dapat menggunakan air, jaringan transmisi, lahan, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Artinya, ukuran keberhasilan industri ini tidak cukup hanya dilihat dari besarnya investasi yang masuk. Pemerintah juga perlu menghitung berapa besar nilai tambah, lapangan kerja, penerimaan negara, pengembangan teknologi, serta manfaat ekonomi yang benar-benar tinggal di Indonesia.
Investasi Digital Terus Bertumbuh
PT PLN (Persero) mencatat telah menyalurkan energi kepada 159 perusahaan data center di Indonesia dengan kapasitas tersambung mencapai 2.038 megavolt ampere (MVA). Total konsumsi listrik sektor tersebut tercatat sekitar 2.378 gigawatt hour (GWh).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, kebutuhan listrik dan air menjadi dua faktor penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan industri data center.
“Data center itu membutuhkan dua hal, yaitu listrik besar dan juga ketersediaan air. Jadi kita melihat pengembangan data center itu harus sesuai dengan potensi listrik dan ketersediaan air,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Pemerintah sendiri melihat data center sebagai salah satu sektor strategis dalam pengembangan ekonomi digital nasional.
Menteri ESDM sekaligus Menteri Koordinator Bidang Transisi Energi dan Hilirisasi Bahlil Lahadalia bahkan mengajak investor global memanfaatkan potensi Indonesia untuk membangun pusat data.
Menurut pemerintah, Indonesia memiliki wilayah luas dan beragam sumber energi, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi hingga angin.
Listrik Menjadi Biaya Ekonomi Utama
Pertumbuhan data center tidak dapat dipisahkan dari konsumsi listrik.
Perkembangan AI membuat kebutuhan komputasi meningkat pesat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investasi pusat data sekaligus meningkatkan kebutuhan pembangkit dan jaringan listrik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan kebutuhan energi Indonesia pada 2030 dapat mencapai 700–800 terawatt hour (TWh).
Sebagai pembanding, konsumsi listrik nasional yang dicatat PLN saat ini berada di sekitar 317 TWh.
Airlangga menyebut perkembangan industri berbasis teknologi menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kebutuhan energi tersebut.
Kapasitas pusat data Indonesia dalam waktu dekat diperkirakan mencapai sekitar 1,5 gigawatt.
Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa data center bukan sekadar proyek properti atau pembangunan gedung server. Di belakangnya terdapat kebutuhan pembangkit, jaringan transmisi, gardu induk dan sistem kelistrikan yang harus disiapkan secara bersamaan.
Bagi PLN, kondisi ini membuat perencanaan pasokan listrik harus dilakukan sejak tahap awal pembangunan proyek.
Ketika Investasi Berhadapan dengan Keterbatasan Air
Selain listrik, air menjadi komponen penting dalam operasional sebagian data center karena digunakan untuk sistem pendinginan.
Data center berskala besar dapat membutuhkan air sekitar 1 juta hingga 5 juta liter per hari, bergantung pada teknologi pendinginan yang digunakan.
Batam menjadi salah satu contoh daerah yang menghadapi tantangan tersebut.
Pertumbuhan investasi data center di Batam berlangsung ketika wilayah tersebut juga memiliki keterbatasan sumber air baku. Pada Agustus 2026, pemerintah daerah masih menghadapi tantangan menjaga kontinuitas layanan air bersih masyarakat akibat penurunan volume Waduk Nongsa di tengah rendahnya curah hujan.
Sementara itu, sedikitnya 16 data center berada dalam berbagai tahap pembangunan di Batam.
Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam Dendi Gustinandar mengatakan keterbatasan air menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pengembangan investasi.
“Batam adalah daerah yang tidak punya sumber air. Air kita berasal dari curah hujan. Karena itu sejak dulu Batam membangun proyek waduk. Saat ini ada delapan waduk,” katanya.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa investasi digital juga memiliki biaya peluang.
Air yang digunakan untuk industri pada satu sisi merupakan sumber daya ekonomi, tetapi pada sisi lain juga dibutuhkan rumah tangga, pertanian dan kegiatan ekonomi lainnya.
Jatiluhur Menjadi Contoh Besarnya Skala Proyek
Persoalan kebutuhan sumber daya alam juga terlihat dalam rencana pembangunan pusat data berbasis AI di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Proyek AI Campus 2 (CGK4) tersebut dirancang di atas lahan sekitar 11 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp3,5 triliun.
Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas listrik hingga 640 megawatt (MW) dengan sistem pendinginan cair.
Pembangunan proyek tersebut sempat dihentikan sementara setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat menemukan persoalan terkait sejumlah dokumen perizinan, termasuk AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Dari perspektif ekonomi, angka 640 MW menunjukkan besarnya kebutuhan energi sebuah fasilitas data center.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menghitung, jika beroperasi penuh sepanjang tahun, fasilitas dengan kapasitas 640 MW tersebut membutuhkan listrik sekitar 5,6 TWh per tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa satu proyek dapat memiliki konsumsi listrik yang sangat besar dan berpotensi memengaruhi perencanaan sistem kelistrikan regional.
IESR juga menyoroti kebutuhan untuk mengkaji sumber air proyek, terutama karena kawasan Jatiluhur memiliki fungsi penting bagi sistem irigasi pertanian Jawa Barat.
Triliunan Rupiah Investasi, Berapa Banyak Lapangan Kerja?
Pertanyaan ekonomi berikutnya adalah mengenai dampak terhadap tenaga kerja.
Ekonom Bank Mandiri Andre Simangunsong menilai pembangunan data center berbasis AI tidak otomatis menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar setelah fasilitas beroperasi.
Menurutnya, manfaat tenaga kerja terbesar justru muncul ketika proyek masih berada dalam tahap konstruksi.
Pada fase tersebut, pembangunan membutuhkan berbagai material dan jasa konstruksi serta tenaga kerja.
Namun, setelah fasilitas beroperasi, kebutuhan tenaga kerja relatif lebih terbatas karena sebagian besar proses pengelolaan data center menggunakan sistem otomatis dan teknologi berintensitas modal tinggi.
“Begitu sudah beroperasi, ada berapa pekerja yang dibutuhkan untuk mengoperasikan data center? Cuma tiga. Job creation-nya sangat minimal,” ujar Andre.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara nilai investasi dan nilai tambah ekonomi.
Investasi Rp3 triliun, Rp5 triliun atau bahkan lebih besar tidak serta-merta berarti tercipta lapangan kerja permanen dalam jumlah sebanding.
Karena itu, ukuran keberhasilan investasi data center perlu diperluas. Tidak cukup hanya menghitung nilai proyek, tetapi juga perlu melihat seberapa besar investasi tersebut mendorong industri lokal, tenaga kerja berkeahlian tinggi, perusahaan teknologi nasional, serta penerimaan negara.
Jangan Sampai Indonesia Hanya Menjadi Lokasi Server
Tantangan lain adalah memastikan data center menjadi bagian dari ekosistem teknologi nasional.
Andre mempertanyakan apakah pembangunan data center akan berhenti pada penyediaan infrastruktur atau dilanjutkan dengan pengembangan aplikasi dan industri AI nasional.
Persoalannya adalah Indonesia berpotensi menjadi lokasi penyimpanan dan pemrosesan data untuk perusahaan teknologi global tanpa mendapatkan seluruh nilai ekonomi dari perkembangan AI.
Jika kondisi tersebut terjadi, manfaat investasi dapat lebih banyak terkonsentrasi pada penyedia teknologi, pemilik modal, dan perusahaan global, sementara Indonesia menanggung kebutuhan infrastruktur dasar seperti listrik, air dan lahan.
Karena itu, pembangunan data center idealnya berjalan bersama pengembangan talenta digital, pusat riset, perusahaan rintisan teknologi, industri semikonduktor, komputasi awan, keamanan siber dan aplikasi AI buatan dalam negeri.
Mengubah Konsumsi Energi Menjadi Nilai Tambah
Industri data center memiliki karakter berbeda dengan industri manufaktur konvensional.
Pabrik membutuhkan listrik dan bahan baku, tetapi juga dapat menciptakan rantai pasok panjang melalui pemasok lokal.
Data center lebih banyak merupakan industri padat modal yang membutuhkan listrik, teknologi, perangkat keras dan sistem keamanan dengan tingkat otomatisasi tinggi.
Karena itu, tantangan kebijakan pemerintah adalah bagaimana membuat setiap investasi data center menciptakan spillover effect yang lebih luas.
Misalnya melalui penggunaan tenaga kerja Indonesia berkeahlian tinggi, pengadaan barang dan jasa lokal, pengembangan pusat penelitian AI, pemanfaatan energi terbarukan, hingga kewajiban atau insentif untuk membangun ekosistem teknologi di sekitar kawasan data center.
Dengan demikian, listrik dan air yang digunakan tidak hanya menghasilkan gedung server, tetapi juga menghasilkan aktivitas ekonomi baru.
Hitung-hitungan Ekonomi Tidak Berhenti pada Nilai Investasi
Pembangunan data center tetap memiliki peluang besar bagi Indonesia.
Investasi dapat memperkuat infrastruktur digital, menarik perusahaan teknologi global dan mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.
Namun, ekspansi tersebut juga membawa konsekuensi ekonomi yang perlu dihitung secara transparan.
Ada biaya pembangunan pembangkit dan jaringan listrik. Ada kebutuhan air. Ada penggunaan lahan. Ada potensi tekanan terhadap sumber daya untuk sektor lain. Ada pula pertanyaan mengenai lapangan kerja dan nilai tambah domestik.
Karena itu, ukuran keberhasilan industri data center tidak semata-mata berapa triliun rupiah investasi yang masuk, melainkan juga berapa besar nilai ekonomi yang tercipta setelah investasi tersebut berjalan.
Indonesia pada akhirnya menghadapi pilihan kebijakan yang lebih kompleks: bukan sekadar menjadi tempat berdirinya data center, tetapi membangun ekosistem teknologi yang mampu memanfaatkan infrastruktur tersebut.
Jika investasi digital mampu berjalan bersama pengembangan energi bersih, efisiensi air, tenaga kerja berkeahlian tinggi, industri teknologi lokal dan inovasi nasional, maka data center dapat menjadi bagian dari transformasi ekonomi.
Sebaliknya, tanpa penguatan ekosistem tersebut, pembangunan pusat data berisiko hanya menghasilkan pertumbuhan investasi dan konsumsi sumber daya yang besar, sementara nilai tambah ekonominya belum tentu tersebar luas di dalam negeri.
Di sinilah hitung-hitungan ekonomi data center Indonesia sesungguhnya dimulai: bukan hanya menghitung berapa besar modal yang masuk, tetapi juga menghitung berapa besar manfaat ekonomi yang tinggal di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *