Info IslamNusantara

Mengapa Orang yang Pernah Haji atau Umrah Selalu Rindu Kembali ke Tanah Suci? Ini Rahasianya

231
×

Mengapa Orang yang Pernah Haji atau Umrah Selalu Rindu Kembali ke Tanah Suci? Ini Rahasianya

Share this article

LINTASNUSANTARANEWS.ID | MAKKAH- Ada pengalaman spiritual yang kerap dirasakan orang yang pernah menunaikan ibadah haji atau umrah: munculnya kerinduan untuk kembali ke Tanah Suci, khususnya ke Baitullah di Makkah.

Kerinduan itu bahkan dapat muncul setelah seseorang meninggalkan Masjidil Haram. Semakin jauh dari Ka’bah, sebagian orang justru merasakan keinginan untuk kembali dan kembali lagi.

Dalam Alquran, Allah SWT telah menggambarkan kedudukan Baitullah sebagai tempat yang menjadi tujuan dan tempat kembali manusia. Hal itu berkaitan dengan doa Nabi Ibrahim AS ketika menempatkan sebagian keturunannya di lembah yang tandus di sekitar Baitullah.

Allah SWT berfirman:

«رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ»

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan, agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

(QS Ibrahim: 37)

Perhatikan doa Nabi Ibrahim AS tersebut. Yang diminta bukan sekadar agar manusia datang secara fisik, melainkan agar Allah menjadikan hati manusia cenderung kepada tempat tersebut.

Kata tahwi dalam ayat tersebut menggambarkan kecenderungan hati yang tertarik dan bergerak menuju sesuatu.

Baitullah sebagai Tempat Kembali

Allah SWT juga berfirman:

«وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا»

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.”

(QS Al-Baqarah: 125)

Dalam ayat tersebut terdapat kata matsabah, yang bermakna tempat kembali dan tempat tujuan.

Makna inilah yang menjadi salah satu penjelasan mengapa Baitullah memiliki daya tarik spiritual yang begitu kuat bagi orang-orang yang pernah mengunjunginya. Seseorang datang untuk melaksanakan haji atau umrah, kemudian kembali ke negerinya. Namun, setelah meninggalkan Tanah Suci, hatinya masih tertinggal dan muncul keinginan untuk kembali.

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, ketika menjelaskan ayat tersebut dalam tafsirnya, mengajak umat untuk merenungkan makna kata bait dan matsabah.

Bait berkaitan dengan tempat bermalam, tinggal, berlindung, beristirahat, dan berkumpul bersama keluarga. Sedangkan matsabah menunjuk pada tempat yang menjadi tujuan untuk didatangi dan kemudian menjadi tempat kembali.

Karena itu, Baitullah menjadi tempat yang memiliki ikatan khusus dengan hati manusia. Orang yang pernah merasakan suasana ibadah di Masjidil Haram dapat merasakan kerinduan untuk kembali ke tempat tersebut.

Ketika Urusan Dunia Seakan Menghilang

Menurut penjelasan Asy-Sya’rawi, berada di Masjidil Haram menghadirkan suasana yang membuat seseorang lebih mudah memusatkan perhatian kepada Allah SWT.

Ketika memandang Ka’bah, berbagai kesempitan, kegelisahan, dan kesedihan yang memenuhi dada seakan menjadi ringan. Untuk sementara, perhatian seseorang dapat terlepas dari kesibukan dunia, pekerjaan, maupun berbagai persoalan kehidupan.

Ia berada di tempat yang dipenuhi ibadah: salat, tawaf, doa, zikir, dan membaca Alquran.

Karena kuatnya daya tarik spiritual tersebut, Asy-Sya’rawi menggambarkan bahwa apabila seseorang terus-menerus berada dalam kondisi itu tanpa harus kembali mengurus kehidupan dunia, mungkin ia akan memilih menetap di sekitar Baitullah.

Karena itu pula, dalam kehidupan para sahabat terdapat perhatian agar jamaah yang telah menyelesaikan ibadah haji kembali kepada keluarga dan kehidupan mereka.

Kerinduan kepada Baitullah bukan berarti meninggalkan kewajiban dunia, melainkan menjadi pengalaman spiritual yang dapat membawa seseorang kembali kepada kehidupan dengan hati yang lebih tenang dan semangat beribadah yang lebih kuat.

Baitullah Juga Menjadi Tempat yang Aman

Selain sebagai tempat kembali, Allah SWT menyebut Baitullah sebagai tempat yang aman.

Dalam QS Al-Baqarah ayat 125, Allah berfirman:

«وَأَمْنًا»

“Dan tempat yang aman bagi manusia.”

Kesucian Tanah Haram memiliki konsekuensi yang luas. Perlindungan bukan hanya diberikan kepada manusia, tetapi juga berlaku terhadap hewan buruan dan tumbuh-tumbuhan di wilayah tersebut sesuai ketentuan syariat.

Dalam sejarah Arab sebelum Islam, Makkah juga dikenal sebagai wilayah yang memiliki kehormatan khusus. Orang-orang yang berada di dalamnya mendapatkan perlindungan dari tindakan kekerasan yang biasa terjadi di tempat lain.

Kesucian dan keamanan tersebut kemudian ditegaskan dan disempurnakan melalui ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, Baitullah bukan hanya tempat yang didatangi secara fisik, tetapi juga tempat yang memiliki kedudukan khusus bagi hati orang-orang beriman.

Kerinduan yang Berasal dari Hati

Kerinduan kepada Tanah Suci pada akhirnya bukan sekadar persoalan keindahan tempat atau perjalanan wisata. Ia berkaitan dengan pengalaman ibadah, ketenangan batin, dan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Doa Nabi Ibrahim AS agar hati manusia dicondongkan kepada Baitullah terus menjadi bagian dari kehidupan umat Islam hingga hari ini.

Jutaan manusia datang dari berbagai penjuru dunia untuk memenuhi panggilan haji dan umrah. Setelah kembali ke negeri masing-masing, sebagian dari mereka masih menyimpan kerinduan yang sama: suatu hari dapat kembali melihat Ka’bah, kembali tawaf, kembali salat di Masjidil Haram, dan kembali bermunajat kepada Allah di Tanah Suci.

Itulah salah satu rahasia mengapa Baitullah selalu dirindukan: tubuh boleh meninggalkan Tanah Suci, tetapi hati seorang mukmin sering kali masih ingin kembali kepadanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *