LINTASNUSANTARANEWS.ID | JAKARTA- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026. Peringatan yang mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” tersebut diarahkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga momentum memperkuat tradisi keulamaan, pelayanan kepada masyarakat dan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina.
Pedoman tersebut tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 1 Oktober 2026. Surat ditujukan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).
Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengatakan, perhatian NU terhadap Palestina memiliki akar sejarah yang panjang. Dukungan tersebut, kata dia, telah diwariskan para pendiri NU dan terus dirawat hingga saat ini.
“Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina,” ujar Gus Kikin, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, dukungan terhadap rakyat Palestina telah disuarakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sejak sebelum Indonesia merdeka. Kepedulian tersebut kemudian terus diwujudkan melalui berbagai bentuk solidaritas, termasuk doa dan pembacaan Qunut Nazilah.
Apel Hari Santri Digelar Serentak
Salah satu agenda utama dalam pedoman PBNU adalah Apel Hari Santri Nasional 2026 yang akan dilaksanakan secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Apel dapat dilaksanakan di halaman sekretariat NU sesuai tingkatan kepengurusan maupun di lingkungan pondok pesantren, rumah sakit atau klinik, sekolah, madrasah dan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama.
Dalam kegiatan tersebut, Naskah Resolusi Jihad NU juga dapat dibacakan oleh jajaran Tanfidziyah atau Badan Otonom NU.
PBNU meminta seluruh rangkaian peringatan dilaksanakan dengan mengedepankan kekhidmatan dan kesederhanaan serta memberikan manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat.
Diawali Ziarah Makam Ulama
Rangkaian Hari Santri juga diarahkan untuk diawali dengan ziarah ke makam para ulama, aulia maupun muharrik Nahdlatul Ulama di wilayah khidmah masing-masing.
Ziarah tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi sekaligus mengenang perjuangan para ulama terdahulu yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan Islam dan kehidupan bangsa.
Tradisi tersebut juga menjadi sarana untuk mengingat kembali nilai perjuangan, keilmuan dan pengabdian para ulama yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.
Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina
Hal lain yang mendapat perhatian khusus dalam pedoman Hari Santri 2026 adalah solidaritas terhadap rakyat Palestina.
PBNU meminta seluruh jenjang kepengurusan NU menggelar “Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina” melalui majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah maupun majelis doa lainnya.
Kegiatan tersebut diposisikan sebagai bentuk riyadhah bathiniyyah sekaligus ekspresi solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina.
Komitmen tersebut sejalan dengan perhatian Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar ketika menerima sejumlah tokoh Palestina di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Ahad (27/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut hadir antara lain Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan Mahmoud S.A. Al-Habash, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Sheikh Mohammad A.M. Hussein serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdulfattah A.K. Al-Satar.
“Selamat datang di rumah Anda sendiri dan di tengah saudara-saudara Anda,” ujar Kiai Miftach saat menerima rombongan tersebut.
Dalam pertemuan itu, Kiai Miftach turut mendoakan keselamatan dan kedamaian bagi rakyat Palestina. Ia juga berharap terbuka jalan bagi umat Islam untuk dapat beribadah di Masjidil Aqsa dalam keadaan merdeka dan bermartabat.
Pertemuan tersebut turut membahas sejumlah persoalan keumatan, kemanusiaan, pendidikan dan perdamaian dunia.
Hari Santri Diisi Khidmah untuk Masyarakat
Selain apel, ziarah dan mujahadah untuk Palestina, PBNU mendorong jajaran NU mengisi Hari Santri dengan kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Sejumlah kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga dan zakat, serta kegiatan peduli lingkungan seperti sanitasi pesantren atau madrasah dan bersih-bersih masjid.
Halaqah yang melibatkan ulama dan pondok pesantren di wilayah masing-masing juga dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Hari Santri 2026 diarahkan menjadi momentum untuk mempertemukan semangat menjaga warisan ulama dengan praktik khidmah nyata di tengah masyarakat.
Tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” menjadi pijakan untuk merawat tradisi keilmuan dan spiritual pesantren sekaligus memperkuat kepedulian sosial, kebangsaan dan kemanusiaan.
Pedoman Hari Santri Nasional 2026 ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam Prof. Dr. KH Mohammad Nuh, Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, serta Sekretaris Jenderal H. Gudfan Arif, S.IP.
PBNU Terbitkan Pedoman Hari Santri 2026, Ziarah hingga Doa untuk Palestina Jadi Rangkaian Utama




















