LINTASNUSANTARANEWS.ID | IBADAH- Shalat berjamaah merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain mendatangkan pahala yang lebih besar dibandingkan shalat sendirian, shalat berjamaah juga menyimpan berbagai hikmah yang berkaitan erat dengan kehidupan sosial umat Islam.
Rasulullah SAW menjelaskan besarnya keutamaan shalat berjamaah dibandingkan shalat sendirian. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
ุตูููุงุฉู ุงููุฌูู
ูุงุนูุฉู ุฃูููุถููู ู
ููู ุตูููุงุฉู ุงููููุฐูู ุจูุณูุจูุนู ููุนูุดูุฑูููู ุฏูุฑูุฌูุฉู
Artinya: โShalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.โ (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan shalat berjamaah. Namun, keutamaannya tidak hanya berkaitan dengan jumlah pahala. Di balik barisan jamaah yang berdiri rapi di masjid atau mushala, terdapat pelajaran penting tentang bagaimana seorang Muslim membangun hubungan dengan Allah sekaligus menjaga hubungan dengan sesama manusia.
Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi dalam kitab Hikmatut Tasyriโ wa Falsafatuh menjelaskan sejumlah hikmah yang terkandung dalam syariat shalat berjamaah.
Simbol Persatuan Umat
Shalat berjamaah menjadi salah satu simbol persatuan umat Islam. Jamaah berkumpul pada waktu yang sama, menghadap kiblat yang sama, berdiri dalam satu barisan, dan mengikuti seorang imam.
Tidak ada ruang bagi ego pribadi ketika seseorang telah masuk ke dalam barisan shalat. Gerakan berdiri, rukuk, sujud hingga salam dilakukan secara bersama-sama dan mengikuti tuntunan imam.
Pemandangan tersebut memberikan pesan bahwa umat Islam memiliki tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya.
Persatuan yang terlihat dalam shalat berjamaah seharusnya tidak berhenti ketika salam diucapkan. Nilai kebersamaan itu idealnya dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari dengan saling membantu, menjaga persaudaraan dan menghindari perpecahan.
Mengajarkan Kesetaraan
Di dalam shalat berjamaah, perbedaan status sosial menjadi tidak berarti. Jabatan, kekayaan, keturunan, maupun kedudukan seseorang tidak menentukan tempatnya di hadapan Allah.
Orang kaya dan miskin berdiri dalam satu shaf. Pejabat dan rakyat biasa berada dalam barisan yang sama. Majikan dan pekerja dapat berdiri berdampingan. Tidak ada karpet khusus yang menjadikan seseorang lebih mulia di hadapan Allah hanya karena kedudukan dunianya.
Shalat berjamaah dengan demikian mengajarkan bahwa manusia pada hakikatnya memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba Allah.
Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh harta, jabatan ataupun keturunan, melainkan oleh ketakwaannya.
Menjadi Sarana Introspeksi Diri
Shalat berjamaah juga dapat menjadi sarana untuk melakukan introspeksi.
Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat mungkin terbiasa mendapatkan penghormatan. Namun ketika memasuki masjid, ia kembali diingatkan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Begitu pula seseorang yang memiliki kekayaan berlimpah akan berdiri sejajar dengan orang yang secara ekonomi berkecukupan maupun kurang mampu.
Hal ini menjadi pengingat bahwa segala kelebihan yang dimiliki manusia di dunia hanyalah sementara. Pada akhirnya, seluruh manusia akan kembali menghadap Allah SWT.
Karena itu, shalat berjamaah semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.
Menjadi Sarana Silaturahim
Masjid bukan hanya tempat melaksanakan shalat, tetapi juga dapat menjadi ruang bertemunya masyarakat.
Dalam shalat berjamaah, seseorang dapat bertemu dengan tetangga, teman, kerabat, maupun masyarakat yang sebelumnya tidak dikenalnya. Pertemuan yang berulang setiap hari dapat melahirkan kedekatan, kepedulian dan rasa persaudaraan.
Ketika seseorang tidak terlihat di masjid selama beberapa waktu, jamaah lainnya dapat mengetahui dan menanyakan keadaannya. Dari sinilah tumbuh kepedulian sosial.
Shalat berjamaah akhirnya tidak hanya memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga dapat mempererat hubungan antarmanusia (hablum minannas).
Menjawab Panggilan Allah
Ketika azan berkumandang, seorang Muslim mendengar seruan:
ุญูููู ุนูููู ุงูุตููููุงุฉู
Hayya ‘alash shalah, yang berarti โMarilah menuju shalat.โ
Seruan azan bukan sekadar tanda bahwa waktu shalat telah tiba. Bagi seorang Muslim, azan merupakan panggilan untuk segera menghadap dan beribadah kepada Allah SWT.
Jika seseorang dapat segera merespons panggilan atasannya, pekerjaannya, atau orang yang memiliki kedudukan di dunia, maka sudah semestinya panggilan Allah mendapatkan perhatian yang lebih utama.
Shalat berjamaah menjadi salah satu bentuk nyata seorang hamba dalam menyambut panggilan tersebut.
Shaf Mengajarkan Kedisiplinan dan Kebersamaan
Barisan shalat yang rapi juga mengandung pelajaran tentang kedisiplinan. Setiap jamaah dituntut mengikuti imam dan tidak mendahului gerakannya.
Ada waktu untuk berdiri, rukuk, sujud dan duduk. Semuanya dilakukan dengan tertib dan teratur.
Pelajaran ini menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim juga membutuhkan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan yang benar.
Namun, kepatuhan kepada imam dalam shalat bukanlah kepatuhan tanpa batas. Imam diikuti selama berada dalam tuntunan shalat yang benar. Prinsip ini memberikan pelajaran bahwa kebersamaan membutuhkan kepemimpinan, tetapi kepemimpinan tetap berada dalam koridor kebenaran.
Shalat Berjamaah dan Pembentukan Akhlak
Pada akhirnya, nilai utama dari shalat tidak hanya terlihat dari pelaksanaan gerakan fisiknya, tetapi juga dari perubahan akhlak setelah seseorang selesai melaksanakan ibadah.
Shalat berjamaah semestinya membuat seorang Muslim semakin rendah hati, peduli terhadap sesama, menjaga persaudaraan, menghargai orang lain dan menjauhi kesombongan.
Seseorang yang setiap hari berdiri dalam satu shaf dengan berbagai lapisan masyarakat seharusnya semakin menyadari bahwa manusia tidak layak membanggakan status duniawi di hadapan Allah SWT.
Dengan demikian, shalat berjamaah bukan sekadar ibadah yang dilakukan secara bersama-sama. Ia merupakan sekolah kehidupan yang mengajarkan persatuan, kesetaraan, kedisiplinan, introspeksi, silaturahim dan ketaatan kepada Allah SWT.
Ketika nilai-nilai tersebut benar-benar dihayati, masjid tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah untuk menunaikan kewajiban shalat, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya persaudaraan, kepedulian dan kekuatan umat.
Wallahu a’lam bish-shawab.




















