LINTASNUSANTARANEWS.ID | TAFAKKUR- Kematian adalah kepastian yang tidak dapat ditawar. Tidak peduli seberapa kuat seseorang, sebanyak apa hartanya, atau setinggi apa kedudukannya, pada akhirnya setiap manusia akan meninggalkan dunia.
Namun ada satu hal yang menarik: manusia secara naluriah mencintai kehidupan dan cenderung takut atau membenci kematian. Mengapa Allah memberikan naluri tersebut, sementara kematian adalah sesuatu yang pasti?
Di sinilah terdapat pelajaran besar bagi manusia. Rasa cinta kepada kehidupan bukanlah kesalahan. Yang menjadi persoalan adalah untuk apa kehidupan itu digunakan.
Allah SWT memberikan manusia naluri untuk mempertahankan hidup agar mereka dapat memakmurkan bumi, mencari rezeki, membangun keluarga, berbuat kebaikan, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.
Dalam hadis qudsi, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman:
«“Aku tidak pernah ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku perbuat, seperti keraguan-Ku untuk mewafatkan seorang mukmin. Ia membenci kematian, sementara Aku tidak ingin menyakitinya.”»
(HR Ahmad, Al-Hakim, Ath-Thabrani dan Abu Nu’aim)
Hadis ini menunjukkan bahwa rasa tidak suka terhadap kematian merupakan sesuatu yang manusiawi. Seorang mukmin pun dapat merasa berat meninggalkan kehidupan dunia.
Karena itu, takut kepada kematian tidak otomatis menunjukkan lemahnya iman. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani kehidupan sebelum kematian itu datang.
Allah Mengajarkan Manusia untuk Mencintai Kehidupan
Allah memberikan manusia kebutuhan terhadap makanan, tempat tinggal, keluarga, harta, kesehatan dan berbagai kenikmatan dunia. Semua itu menjadi bagian dari kehidupan yang harus dijalani dan disyukuri.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia dan berhenti berusaha.
Sebaliknya, seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja, mencari rezeki, menjaga kesehatan, membangun keluarga, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan agar manusia tetap melakukan kebaikan meskipun menyadari bahwa dunia akan berakhir.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
«“Jika hari kiamat datang sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”»
(HR Ahmad)
Pesannya sangat dalam. Seorang Muslim tidak boleh berhenti berbuat baik hanya karena mengetahui bahwa kematian pasti datang.
Justru karena kematian pasti datang, setiap kesempatan hidup harus dimanfaatkan untuk menanam amal yang kelak dipanen di akhirat.
Dunia Bukan Tujuan Akhir
Allah SWT berfirman:
«“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang kekal adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”»
(QS Al-Kahf: 46)
Ayat ini tidak mengatakan bahwa harta dan anak adalah sesuatu yang buruk. Keduanya disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia.
Namun Allah mengingatkan bahwa semua perhiasan itu bersifat sementara.
Harta akan ditinggalkan. Anak-anak akan tumbuh dan menjalani kehidupannya sendiri. Jabatan akan berakhir. Rumah akan ditinggalkan. Tubuh yang selama ini dijaga pun akhirnya kembali menjadi tanah.
Yang dibawa manusia ketika meninggalkan dunia bukanlah kekayaan, jabatan atau popularitas, melainkan amal.
Karena itu, kecintaan terhadap dunia harus diarahkan agar tidak membuat manusia lupa kepada akhirat.
Mengapa Kita Takut Mati?
Ada perbedaan antara takut meninggalkan dunia dan takut bertemu Allah.
Seseorang bisa saja takut mati karena masih mencintai keluarga, khawatir meninggalkan anak, memiliki tanggung jawab yang belum selesai, atau karena secara naluriah ingin terus hidup. Perasaan seperti ini manusiawi.
Namun ada ketakutan yang jauh lebih dalam: takut menghadapi Allah karena merasa belum memiliki bekal amal.
Di sinilah kematian seharusnya menjadi cermin bagi kehidupan.
Bukan sekadar membuat kita takut, tetapi mendorong kita bertanya:
Jika malam ini Allah memanggil saya, sudah siapkah saya menghadap-Nya?
Sudahkah salat kita diperbaiki?
Sudahkah dosa-dosa kita ditaubati?
Sudahkah utang diselesaikan?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti?
Sudahkah harta yang kita miliki diperoleh dengan cara halal?
Sudahkah kita memberikan hak orang lain?
Dan yang paling penting, sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan Allah?
Kematian Seharusnya Membuat Kita Lebih Hidup
Paradoksnya, orang yang selalu mengingat kematian justru seharusnya menjadi orang yang paling serius menjalani kehidupan.
Mengingat kematian membuat seseorang lebih berhati-hati menggunakan waktu.
Ia tidak ingin waktunya habis untuk kebencian, permusuhan, kesombongan, maksiat dan perkara yang tidak bermanfaat.
Ia akan lebih menghargai keluarga.
Lebih cepat meminta maaf.
Lebih ringan bersedekah.
Lebih menjaga lisannya.
Lebih berhati-hati mencari rezeki.
Dan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Kematian bukan alasan untuk meninggalkan kehidupan, tetapi alasan untuk memperbaiki cara kita menjalani kehidupan.
Kerinduan Bertemu Allah
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi:
«“Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, Allah mencintai pertemuan dengannya. Dan barang siapa membenci pertemuan dengan Allah, Allah membenci pertemuan dengannya.”»
(HR Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa hal ini tidak berarti seorang Muslim harus menginginkan kematian ketika hidupnya masih memiliki kesempatan untuk beramal.
Sebaliknya, seorang mukmin menjalani hidup dengan penuh harapan kepada Allah sekaligus mempersiapkan diri untuk kembali kepada-Nya.
Ketika ajal tiba, ia berharap termasuk golongan yang dipanggil dengan penuh kemuliaan.
Allah SWT berfirman:
«“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”»
(QS Al-Fajr: 27-30)
Inilah tujuan akhir perjalanan seorang mukmin: kembali kepada Allah dalam keadaan rida dan diridai.
Ibrah: Jangan Takut Mati, Takutlah Kehabisan Bekal
Pada akhirnya, manusia boleh mencintai kehidupan. Bahkan rasa cinta terhadap kehidupan merupakan bagian dari fitrah manusia.
Yang perlu diperbaiki bukan rasa cinta itu, tetapi arah kecintaannya.
Cintailah dunia secukupnya, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati.
Carilah harta, tetapi pastikan halal.
Bangunlah keluarga, tetapi jadikan keluarga sebagai jalan menuju ketaatan.
Kejar kesuksesan, tetapi jangan kehilangan akhirat.
Nikmati kehidupan, tetapi jangan lupa bahwa setiap hari yang berlalu sebenarnya sedang mendekatkan kita kepada kematian.
Kematian bukanlah sesuatu yang perlu kita cari. Kematian adalah sesuatu yang harus kita persiapkan.
Sebab yang menjadi persoalan bukan apakah kita akan mati atau tidak.
Kita semua akan mati.
Pertanyaan terbesarnya adalah:
Ketika kematian datang, dalam keadaan seperti apa kita akan kembali kepada Allah?
Karena itu, selama napas masih diberikan, jangan habiskan kehidupan hanya untuk mengejar sesuatu yang pasti kita tinggalkan.
Gunakan kehidupan untuk menanam sebanyak-banyaknya amal saleh.
Sebab ketika pintu dunia tertutup, yang tetap menemani kita hanyalah amal yang pernah kita tanam selama hidup.
Dan mungkin, inilah ibrah terbesar dari kematian:
Jangan menunggu kematian untuk menyadari betapa berharganya kehidupan. Gunakan kehidupan hari ini untuk mempersiapkan pertemuan dengan Allah yang pasti terjadi




















