Pendidikan

Wisuda 310 Lulusan UUI, Marniati: Wisuda Bukan Akhir, tapi Awal Menjawab Tantangan Kehidupan

2525
×

Wisuda 310 Lulusan UUI, Marniati: Wisuda Bukan Akhir, tapi Awal Menjawab Tantangan Kehidupan

Share this article

LINTASNUSANTARANEWS.ID| BANDA ACEH- Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) mewisuda sebanyak 310 lulusan pada Rapat Senat Terbuka Wisuda Angkatan XVI Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung di AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Sabtu (26/9/2026).

Prosesi wisuda tersebut menjadi momentum penting bagi para lulusan dari berbagai bidang keilmuan untuk memasuki fase baru kehidupan, baik dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Wisudawan dan wisudawati berasal dari sejumlah fakultas, yakni Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Komputer dan Teknik, serta Fakultas Sosial Sains dan Ilmu Pendidikan/Keguruan Ilmu Pendidikan. Lulusan yang dikukuhkan terdiri atas jenjang Diploma dan Sarjana.

Rapat Senat Terbuka dipimpin Rektor UUI, Dr. Mutiawati, S.Pd., M.Pd., yang sekaligus menyampaikan orasi ilmiah dalam rangkaian prosesi wisuda.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Pemerintah Kota Banda Aceh Samsul Bahri, Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol. Teguh Priyambodo Nugroho, S.I.K., Kapolsek Syiah Kuala AKP Alven Febrino, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Duka di Tengah Momentum Wisuda

Di tengah suasana kebahagiaan para lulusan, Ketua Yayasan Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI), Prof. Adjunct Dr. Marniati, M.Kes., menyampaikan duka mendalam atas wafatnya salah seorang alumni terbaik UUI bersama anaknya dalam kecelakaan lalu lintas saat dalam perjalanan dari Aceh Barat Daya (Abdya) menuju Banda Aceh.

“Atas nama keluarga besar Yayasan Ubudiyah dan Universitas Ubudiyah Indonesia, kami menyampaikan duka yang amat mendalam. Semoga Allah SWT memberikan kesabaran dan ketabahan kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan, serta memberikan tempat terbaik bagi almarhum dan anaknya di sisi-Nya,” ujar Marniati.

Menurutnya, musibah tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan merupakan amanah dan manusia tidak memiliki kuasa untuk menentukan seluruh perjalanan hidupnya.

“Dunia ini sementara. Hidup adalah amanah. Apa yang terjadi, termasuk suka dan duka, keberhasilan maupun kegagalan, merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Kita hanya bisa berikhtiar dan menjalani apa yang telah ditetapkan-Nya,” katanya.

Pesan tersebut disampaikan Marniati di hadapan para wisudawan, mahasiswa, alumni dan orang tua. Ia mengajak seluruh hadirin menjadikan momentum wisuda bukan sekadar seremoni akademik, tetapi juga ruang untuk melakukan refleksi tentang makna perjuangan, kehidupan dan tanggung jawab.

Wisuda Bukan Garis Akhir

Kepada 310 lulusan yang baru dikukuhkan, Marniati menegaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi bukanlah titik akhir perjalanan.

“Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Ini adalah awal dari perjalanan baru. Akan ada banyak pintu yang terbuka, baik dunia kerja maupun pendidikan yang lebih tinggi. Karena itu, teruslah belajar, mampu beradaptasi, bekerja keras dan jangan berhenti mengembangkan diri,” pesannya.

Ia mengingatkan, dunia yang dihadapi para lulusan semakin dinamis seiring perkembangan teknologi digital dan meningkatnya persaingan. Karena itu, ijazah tidak boleh menjadi satu-satunya modal dalam membangun masa depan.

Para lulusan, kata Marniati, harus memiliki kemauan untuk terus belajar, beradaptasi dengan perubahan, bekerja keras serta mengembangkan kompetensi sesuai tuntutan zaman.

“Bukan karena kita kuat atau hebat. Allah-lah yang memampukan dan menguatkan kita hingga sampai pada titik ini,” tuturnya.

Ilmu Harus Berbuah Pengabdian

Selain kompetensi akademik, Marniati menekankan pentingnya karakter, integritas dan akhlak sebagai fondasi dalam perjalanan para lulusan.

Menurutnya, ilmu pengetahuan akan kehilangan makna apabila tidak diwujudkan melalui perilaku, pengabdian dan manfaat bagi masyarakat.

“Ilmu itu penting, tetapi ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi sia-sia. Kalau ingin sukses, yang paling penting adalah membersihkan hati dari penyakit hati,” tegasnya.

Ia mengingatkan para lulusan agar menjauhi kesombongan, riya, takabur, ketamakan serta keinginan menguasai segala sesuatu.

Menurut Marniati, jabatan dan kekuasaan bukan ukuran kemuliaan seseorang. Sebaliknya, nilai seseorang justru tercermin dari bagaimana ia menjalankan amanah dan memperlakukan orang lain.

“Ketika diberi jabatan, jangan sampai jabatan itu membuat kita merendahkan orang lain. Jabatan belum tentu memuliakan seseorang. Justru bagaimana kita menjalankan amanah itulah yang menentukan nilai diri kita,” ujarnya.

Perjalanan Sukses Tidak Instan

Marniati juga berbagi pengalaman perjalanan hidupnya kepada para wisudawan. Ia mengenang masa ketika dirinya menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala pada 1999.

Menurutnya, posisi dan pencapaian yang diraih saat ini merupakan hasil dari proses panjang, perjuangan dan pengalaman, bukan sesuatu yang diperoleh secara instan.

“Semua membutuhkan proses. Setelah sarjana, saya pernah melamar menjadi pekerja bank. Dari sana perjalanan terus berjalan. Tidak ada sesuatu yang diperoleh secara instan,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta para lulusan tidak mudah menyerah ketika menghadapi pekerjaan, pimpinan, lingkungan baru maupun berbagai persoalan yang tidak sesuai dengan harapan.

Setiap tantangan, kata dia, dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan pendewasaan diri.

“Bersyukurlah atas semua nikmat yang Allah berikan dan bersabarlah menghadapi setiap ujian. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap berat hari ini justru menjadi jalan Allah untuk membesarkan dan menguatkan kita,” katanya.

Bekal Menghadapi Dunia Nyata

Marniati menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak semata-mata diukur dari jabatan, kekayaan atau pencapaian duniawi. Lebih dari itu, keberhasilan tercermin dari kemampuan seseorang menjaga hati, mengamalkan ilmu, menghargai sesama dan menjalankan amanah.

Ia pun mengajak seluruh lulusan UUI menjadikan ilmu sebagai bekal berkarya, karakter sebagai pegangan dan ketakwaan sebagai landasan dalam menjalani kehidupan.

“Bersihkan hati, terus belajar, bekerja keras, bersyukur dan bersabar. Insyaallah, dengan ilmu yang diamalkan dan hati yang bersih, kita tidak hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi juga keselamatan dan keberkahan di akhirat,” pungkas Marniati.

Prosesi Wisuda Angkatan XVI UUI tersebut menjadi penanda berakhirnya satu fase akademik sekaligus awal bagi 310 lulusan untuk mengimplementasikan ilmu, kompetensi dan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan ke dalam kehidupan profesional maupun pengabdian kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *