LINTASNUSANTARANEWS.ID | SIMALUNGUN-
Hembusan angin sejuk menyambut siapa saja yang memasuki kawasan Aek Nauli. Di antara tegakan pohon pinus dan kontur tanah yang berbukit, suara khas gajah sesekali terdengar dari kejauhan.
Tak sampai 10 menit dari kawasan wisata Parapat di tepian Danau Toba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, terdapat kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi sejumlah gajah, yakni Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC).
Kawasan yang berada di Lintas Sumatera Nomor 16, Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, ini berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Masyarakat mengenal wilayah tersebut sebagai jalur lintas Sumatera yang menghubungkan Pematangsiantar dengan Parapat sekaligus salah satu akses menuju kawasan wisata Danau Toba.
Namun, Aek Nauli bukan sekadar kawasan persinggahan wisatawan. Tempat ini memiliki misi penting dalam upaya penyelamatan gajah yang terdampak konflik dengan manusia.
Rumah bagi Gajah Korban Konflik
Kepala Resor Aek Nauli Elephant Conservation Camp dan Cagar Alam Batu Gajah, Boby Natalius Purba, menjelaskan sebagian besar gajah yang berada di ANECC merupakan satwa hasil penanganan konflik dengan masyarakat.
Dari tujuh ekor gajah yang saat ini berada di kawasan tersebut, enam di antaranya merupakan gajah hasil penanganan konflik. Sementara satu ekor lainnya merupakan hasil pengembangbiakan dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Labuhan Batu, Sumatera Utara.
Terdiri dari dua gajah jantan dan lima betina, sebagian besar gajah di kawasan tersebut telah berusia lebih dari 30 tahun.
Menurut Boby, konflik biasanya terjadi ketika gajah kehilangan habitat alaminya sehingga masuk ke perkebunan atau lahan masyarakat. Kehadiran gajah kemudian dianggap mengganggu atau merusak tanaman warga.
Kondisi tersebut dapat memicu konflik antara manusia dan satwa liar.
“Kalau kita biarkan terus, takutnya gajah liar di sana diburu. Maka kita buatkan konservasi gajah jinak,” kata Boby saat ditemui, Kamis (24/9/2026).
Kawasan konservasi gajah tersebut memiliki luas sekitar 285 hektare dan berada dalam kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli yang secara keseluruhan mencapai sekitar 2.400 hektare.
Gajah-gajah tersebut dirawat, dilatih dan dipantau kondisinya sebagai bagian dari upaya penanganan serta mitigasi konflik satwa dengan manusia.
“Kita rawat, kita latih, itu menjadi gajah jinak. Tujuannya sebagai tempat penanganan dan mitigasi konflik,” ujarnya.
Dari Mitigasi Konflik hingga Potensi Wisata
ANECC mulai dibuka pada 2017. Kehadirannya tidak terlepas dari kebijakan pengembangan destinasi wisata yang saat itu mendorong munculnya sejumlah destinasi prioritas di luar Bali.
Letaknya yang berdekatan dengan Danau Toba membuat kawasan Aek Nauli dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis konservasi.
Boby mengatakan sejak awal pihaknya mendorong agar kawasan tersebut dapat dialihfungsikan menjadi Taman Wisata Alam (TWA), sehingga akses masyarakat terhadap kawasan konservasi dapat diperluas dengan tetap memperhatikan prinsip perlindungan satwa dan lingkungan.
“Kalau kami dari dulu mendorong ini supaya alih fungsi menjadi Taman Wisata Alam (TWA). Kalau jadi TWA, kami pasti akan buka untuk umum. Untuk publik total kami akan buka,” katanya.
Selain gajah, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai satwa lainnya, antara lain beruang, kambing hutan, macan dan beragam jenis burung.
Dengan kekayaan tersebut, Aek Nauli memiliki peluang dikembangkan sebagai kawasan wisata edukasi yang menggabungkan konservasi satwa, pendidikan lingkungan dan pengalaman wisata alam.
Aktivitas Gajah Dimulai Pagi Hari
Keseharian gajah di ANECC berlangsung dengan pola yang teratur.
Sekitar pukul 09.00 WIB, gajah mulai beraktivitas mencari pakan alami di kawasan konservasi. Rumput dan berbagai jenis tumbuhan menjadi bagian utama makanan mereka.
Kemudian sekitar pukul 14.00 WIB, para mahout atau pawang menggiring gajah menuju kolam di tepi sungai untuk mandi.
Setelah mandi, gajah memperoleh makanan tambahan sebelum kembali ke kandang terbuka.
Pakan tambahan dapat berupa nanas, semangka, tebu, pepaya, pelepah kelapa sawit hingga batang pisang.
Setiap sore, kondisi gajah juga diperiksa untuk memastikan tidak terdapat luka maupun gangguan kesehatan.
“Ada atau tidak ada luka, gajah wajib kami periksa setiap sore,” kata Boby.
Pada waktu tertentu, pengunjung dapat menyaksikan aktivitas mandi gajah dan berinteraksi dari jarak yang telah ditentukan.
Gajah terkadang menyemburkan air menggunakan belalainya ke arah pengunjung. Menurut pengelola, perilaku tersebut bukan selalu menunjukkan agresivitas, tetapi dapat menjadi bentuk interaksi yang sudah terbiasa dilakukan terhadap manusia yang berada di sekitarnya.
Kontur Menjadi Tantangan
Meski memiliki kawasan yang cukup luas, pengelolaan gajah di Aek Nauli bukan tanpa tantangan.
Kontur kawasan yang berbukit dan memiliki perbedaan ketinggian cukup tajam membuat mobilitas gajah menjadi lebih terbatas.
“Posisi landainya kan tidak terlalu luas, jadi di sini lebih banyak curam. Kasihan juga gajah kalau dia terlalu curam,” ujar Boby.
Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi para mahout ketika mencari lokasi yang aman bagi gajah untuk mencari pakan.
Saat ini terdapat sekitar 25 staf yang bekerja di kawasan tersebut. Sebanyak 10 orang di antaranya bertugas sebagai mahout.
Menariknya, sebagian mahout memiliki pengalaman panjang bersama gajah sejak masih menjadi relawan.
“Dulu adik-adik ini relawan semua, tidak langsung jadi mahout. Mereka dulu waktu masih sekolah, sepulang sekolah mereka main-main, lalu diajak, apa mau memegang gajah,” tutur Boby.
Sekolah Bisa Belajar Langsung dari Gajah
Salah satu fungsi penting ANECC adalah sebagai ruang edukasi bagi pelajar dan mahasiswa.
Anak-anak sekolah yang datang tidak hanya melihat gajah, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai status gajah sebagai satwa yang dilindungi dan menghadapi berbagai ancaman di habitatnya.
Mereka juga diperkenalkan dengan anatomi serta bagian-bagian tubuh gajah.
Bahkan, pengelola dapat memberikan simulasi mengenai perawatan satwa, mulai dari pemotongan kuku hingga prosedur pemasangan infus pada gajah.
Menurut Boby, edukasi seperti itu justru menjadi salah satu tujuan utama konservasi.
ANECC terbuka menerima kunjungan pelajar dan mahasiswa yang ingin mempelajari gajah dan konservasi.
Boby mengatakan jumlah pengunjung bukan menjadi persoalan. Pihaknya pernah menerima sekitar 800 pelajar dalam satu kunjungan. Di kesempatan lain, dua mahasiswa dari luar negeri juga datang untuk melakukan pembelajaran.
Pengunjung tidak dikenakan biaya masuk. Namun, masyarakat maupun sekolah yang berkunjung diperbolehkan membawa bantuan berupa buah-buahan atau pakan tambahan untuk gajah.
Bukan tanpa alasan. Kebutuhan makan seekor gajah sangat besar.
Gajah membutuhkan makanan sekitar 10 persen dari berat tubuhnya setiap hari. Dengan bobot gajah di ANECC yang rata-rata mencapai lebih dari dua ton, seekor gajah dapat membutuhkan sekitar 200 kilogram makanan dalam sehari.
“Tapi tidak paksaan. Bawa semangka, bawa tebu. Kalau memang pihak sekolah bisa menyisihkan, silakan bawa buah-buahan. Kalau pun tidak, tidak apa-apa, tetap kami layani,” ujar Boby.
Pertamina Dukung Konservasi
Upaya pelestarian di Aek Nauli juga mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Fuel Terminal Manager Pematangsiantar Pertamina Patra Niaga, Zakharia Habibuw, mengatakan pihaknya memberikan dukungan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Bantuan tersebut antara lain berupa vitamin dan obat untuk gajah, lahan pembibitan tanaman pakan gajah serta timbangan untuk memantau berat badan satwa.
“Bantuan tersebut untuk mendukung kelestarian gajah maupun lingkungan Aek Nauli,” kata Zakharia.
Menurutnya, keberadaan gajah yang merupakan satwa dilindungi perlu mendapat dukungan bersama. Selain menjaga kelestarian satwa, konservasi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Bukan Hanya Gajah, Ada Anggrek dan Kantong Semar
Keanekaragaman hayati Aek Nauli tidak berhenti pada konservasi gajah.
Kawasan tersebut juga memiliki demplot konservasi anggrek dan kantong semar.
Untuk anggrek, terdapat 27 jenis anggrek hutan yang dikembangkan dalam demplot seluas sekitar 5.000 meter persegi.
Perawatan dan pemupukan dilakukan oleh Kelompok Tani Elephant Nauli. Setiap tanaman juga dilengkapi barcode yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai jenis anggrek tersebut.
Sementara konservasi kantong semar dilakukan dalam demplot seluas sekitar 2.000 meter persegi.
Terdapat enam jenis kantong semar yang dikonservasi dengan jumlah sekitar 82 tanaman. Perawatan dan pemupukan juga dilakukan oleh Kelompok Tani Elephant Nauli.
Keberadaan berbagai program tersebut membuat Aek Nauli memiliki potensi besar sebagai kawasan wisata berbasis konservasi.
Di tengah meningkatnya kebutuhan wisata yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan, Aek Nauli memperlihatkan bahwa penyelamatan satwa dapat berjalan beriringan dengan pendidikan dan pariwisata.
Di kawasan pinus yang sejuk itu, gajah-gajah korban konflik mendapatkan ruang untuk hidup dan dirawat. Sementara bagi pengunjung, terutama generasi muda, Aek Nauli menghadirkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat satwa besar yang selama ini hanya mereka lihat melalui layar.
Pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan gajah.
Ia juga tentang menyelamatkan hubungan antara manusia, satwa liar dan alam yang menjadi ruang hidup bersama




















