LINTASNUSANTARANEWS.ID| JAKARTA- Poin Utama
Peneliti BRIN menekankan pentingnya mengembangkan sumber pakan yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia untuk mencapai keberlanjutan peternakan jangka panjang.
Biaya pakan menyerap 60-80 persen dari total biaya usaha peternakan, menjadikan efisiensi pakan sebagai faktor krusial dalam industri ternak.
BRIN mengembangkan bungkil malapari sebagai pakan lokal alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan pakan impor dan meningkatkan kemandirian pangan ternak nasional.Biaya pakan menyerap sekitar 60–80 persen biaya usaha peternakan. BRIN mengembangkan bungkil malapari sebagai alternatif pakan lokal untuk meningkatkan efisiensi dan kemandirian pakan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Peternakan BRIN, Rantan Krisnan, mengatakan pakan lokal dapat mengurangi ketergantungan bahan impor. Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan sumber pakan yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia.
“Selama ini, kita selalu terpaku dengan bahan-bahan konvensional yang notabene itu adalah impor seperti jagung, bungkil kedelai. Kata kuncinya kita harus mandiri pakan dengan swasembada pakan artinya harus memanfaatkan pakan berbasis lokal ini sebagai sumber pakan untuk kemandirian pakan,” ujar Rantan dalam kegiatan BRIN Goes To Industry 7 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, ditulis, Rabu, 23 September 2026.
Rantan menjelaskan malapari selama ini dikenal sebagai tanaman penghasil bahan bakar nabati. Minyak dari bijinya dapat diolah menjadi biodiesel, sedangkan prosesnya menghasilkan bungkil dalam jumlah besar.
“Dari biji malapari kalau dipres, yang jadi minyaknya hanya 20 persen. 80 persennya itu adalah bungkil. Ini adalah salah satu potensi di sektor peternakan yang sangat menarik untuk kita kembangkan,” katanya.
Bungkil malapari memiliki kandungan protein kasar sekitar 24–30 persen dan serat relatif rendah. Kandungan seratnya sekitar 4–7 persen sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
Rantan menyebut bungkil malapari berpotensi digunakan untuk ternak ruminansia maupun monogastrik. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi tantangan berupa keberadaan senyawa antinutrisi.
Senyawa tersebut perlu dikaji untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pemanfaatan nutrisi dan performa ternak. Rantan menyebut sejumlah senyawa dalam malapari masih perlu diteliti lebih lanjut.
“Ada karajin, pongamol, senyawa propronoid yang dikenal sebagai antinutrisi tetapi antinutrisi itu kalau memang benar-benar menjadi penghambat. Tetapi kalau malah dalam batasan-batasan tertentu itu belum dikategorikan sebagai antinutrisi. Ini menjadi PR juga kalau memang benar-benar menghambat,” katanya.
Pengembangan malapari di BRIN dilakukan melalui beberapa fokus yang saling melengkapi. Tim ORHL mengembangkan klon unggul untuk menghasilkan buah dan minyak dalam jumlah lebih besar.
Sementara itu, Kelompok Riset Teknologi Pakan Alternatif mengembangkan produk samping malapari sebagai bahan pakan lokal. Pengembangan tersebut dilakukan bersama PT Santi Energi Hijau melalui sebuah roadmap penelitian.
“Karena sudah ada kerja sama, akhirnya kita membuat roadmap. Bagaimana pengembangan mesinnya atau tool pengolahannya, bagaimana pengembangan menjadi pakannya. Itu adalah dua kegiatan utama dari roadmap kegiatan pemanfaatan malapari tersebut,” ujar Rantan.
Ke depan, Rantan berharap tersedia policy brief pemanfaatan malapari sebagai bahan masukan bagi pemangku kebijakan. Menurutnya, malapari dapat menjadi alternatif sumber energi sekaligus pakan tanpa menggantikan sumber yang sudah ada.
Malapari juga dinilai berpotensi dikembangkan di lahan marginal, termasuk reklamasi lahan bekas tambang. Rantan berharap pengembangannya dapat melahirkan sistem integrasi malapari dan ternak atau SIMTEK.
“Kalau ada policy brief kita akan coba sounding ke pemegang kebijakan untuk dijadikan program nasional. Nanti akan memunculkan adanya sistem integrasi malapari ternak atau SIMTEK. Ini bukan untuk bermaksud menggantikan tetapi menjadikan pilihan,” ucap Rantan. Direktur PT Santi Energi Hijau, Fauzi Bahanan, mengatakan kerja sama dengan BRIN telah berlangsung sejak 2022. Kerja sama tersebut berfokus pada pengembangan bibit unggul malapari (Pongamia).
Hingga kini, kerja sama tersebut telah menghasilkan sekitar 43 klon kolektif yang dikumpulkan dari berbagai wilayah Indonesia. Klon tersebut berasal dari Jawa Barat, Maluku, Bali, Pangandaran, Jawa Timur, dan Dompu.
“Saat ini kita sudah punya sekitar 43 klon kolektif dari seluruh Indonesia. Kita namakan MakroSan atau Makropropagasi dan Santi,” ujar,” Fauzi.
“Pohon induk ini kita ambil dari seluruh Indonesia. Dari Jawa Barat, Maluku, Bali, Pangandaran, Jawa Timur dan Dompu yang kita domestikasi dan sekarang ada di persemaian kita di Bogor.”
Pada 2026, PT Santi Energi Hijau membangun fasilitas persemaian bernama PoMa Hub (Pongamia-Malapari Hub). Dalam pengembangannya, perusahaan tersebut bekerja sama dengan perusahaan Jepang, FourPride.
BRIN berperan sebagai mitra riset dalam pengembangan PoMa Hub. Fasilitas tersebut dikembangkan sebagai pusat riset dan pengembangan Pongamia serta penelitian terkait lainnya.




















