LINTASNUSANTARANEWS.ID | JAKARTA- Rencana pemerintah mendorong hilirisasi batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau bahan campuran BBM membuka peluang investasi sekaligus transfer teknologi dari negara yang telah memiliki pengalaman dalam pengolahan batu bara.
China menjadi salah satu negara yang dinilai potensial untuk menjadi mitra transfer of technology (ToT), khususnya dalam pengembangan teknologi konversi batu bara menjadi metanol yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai campuran BBM.
Ketua Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Anggawira, mengatakan China relevan untuk diprioritaskan karena memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi pengolahan batu bara.
“Untuk jalur metanol, China menjadi kandidat yang relevan untuk diprioritaskan. Pada proyek BUMI Group sendiri sudah ada kerja sama engineering dengan CNCEC. Namun, kerja sama pembangunan pabrik tidak otomatis berarti transfer teknologi sudah terjadi,” kata Anggawira kepada kumparan, Minggu (4/10).
Menurut dia, pemerintah tetap perlu membuka peluang kerja sama dengan penyedia teknologi dari berbagai negara. Pemilihan mitra teknologi seharusnya tidak hanya didasarkan pada negara asal, tetapi juga mempertimbangkan rekam jejak komersial, kesesuaian teknologi dengan karakteristik batu bara Indonesia, biaya produksi, jaminan kinerja, serta kesediaan melakukan transfer pengetahuan.
“Menurut saya, penjajakan sebaiknya tetap terbuka kepada penyedia teknologi dari negara lain sesuai proses yang dipilih. Ukuran utamanya adalah rekam jejak komersial, kecocokan bahan baku, biaya produksi, jaminan kinerja, dan kesediaan melakukan transfer pengetahuan,” ujarnya.
Anggawira menekankan, transfer teknologi harus memberikan manfaat jangka panjang bagi industri nasional. ToT tidak cukup hanya berupa pembangunan fasilitas atau penggunaan mesin dan teknologi asing, tetapi harus mampu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Indonesia.
Dengan demikian, insinyur dan tenaga teknis nasional nantinya diharapkan mampu mengoperasikan, merawat, mengatasi gangguan, hingga meningkatkan efisiensi fasilitas hilirisasi secara mandiri.
Karena itu, pelatihan, akses terhadap pengetahuan proses, keterlibatan industri lokal, serta kerja sama dengan perguruan tinggi perlu dimasukkan dalam kesepakatan sejak awal apabila pemerintah dan pelaku usaha melakukan kerja sama transfer teknologi.
Kepastian Pasar Jadi Kunci Investasi
Selain teknologi, kepastian pasar menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol maupun BBM.
Anggawira mengatakan pelaku usaha membutuhkan kepastian pembeli apabila metanol yang dihasilkan nantinya diarahkan sebagai bahan campuran BBM.
“Prioritasnya meliputi kepastian pembeli melalui kontrak penyerapan jangka panjang, standar produk dan pengujian kendaraan apabila diarahkan menjadi campuran BBM, serta formula harga yang memungkinkan proyek memperoleh pembiayaan,” katanya.
Menurutnya, kepastian pembeli dan formula harga sangat penting karena proyek hilirisasi membutuhkan investasi besar. Tanpa kepastian pasar dan skema harga yang jelas, pembiayaan proyek akan menjadi lebih sulit.
Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan perizinan yang terkoordinasi serta ketersediaan infrastruktur pendukung, mulai dari air, listrik hingga jaringan logistik.
Insentif fiskal yang terukur juga dinilai diperlukan untuk menyesuaikan kebutuhan masing-masing proyek.
“Prinsip saya, hilirisasi harus menghasilkan produk yang dibutuhkan pasar, dengan biaya yang kompetitif dan kemampuan teknologi yang semakin dikuasai Indonesia,” ujarnya.
China Dinilai Sudah Lebih Maju
Chairman of the Mining and Mineral Committee Apindo, Hendra Sinadia, menilai pengolahan batu bara berkalori rendah menjadi produk bernilai tambah seperti BBM, gas maupun metanol bukan teknologi yang benar-benar baru.
Menurutnya, China merupakan salah satu negara yang telah mengembangkan teknologi konversi batu bara secara lebih maju.
“Di beberapa negara khususnya di Tiongkok konversi batubara untuk penggunaan atau pemanfaatan lain menjadi BBM, gas, metanol dan lain-lain sudah cukup advance. Indonesia punya banyak cadangan batubara kalori rendah yang berpotensi diolah, konversi untuk pemanfaatan, penggunaan lain,” kata Hendra.
Potensi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia mengingat Indonesia memiliki cadangan batu bara berkalori rendah yang cukup besar. Dengan teknologi yang tepat, batu bara tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor produk energi tertentu.
Namun, Hendra mengingatkan bahwa pengembangan industri tersebut membutuhkan investasi yang besar. Teknologi konversi batu bara dinilai relatif mahal sehingga kelayakan ekonomi setiap proyek harus dihitung secara matang.
“Untuk menilai kelayakan ekonomi banyak faktor yang harus dipertimbangkan, selain cadangan, infrastruktur, teknologi, juga yang penting adalah market, harga jual, insentif fiskal dan non-fiskal dan yang tidak kalah pentingnya adalah funding atau pendanaan,” ujarnya.
Pemerintah Dorong Batu Bara Jadi Metanol
Pemerintah sendiri tengah mendorong pengembangan hilirisasi batu bara berkalori rendah menjadi metanol yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai campuran BBM.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pengembangan hilirisasi tersebut diarahkan di sejumlah daerah yang memiliki potensi batu bara besar, termasuk Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur.
“Yang kita dorong kegiatannya itu ada juga yang di Sumatera Selatan, ada daerah-daerah yang potensi batu baranya cukup besar. Itu terutama kita menggunakan batubara kalori rendah,” kata Yuliot saat ditemui usai tabur bunga di TMP Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9).
“Jadi metanol itu kan bisa digunakan untuk sebagai pencampuran bahan bakar minyak (BBM),” lanjutnya.
Yuliot juga mencontohkan pengembangan proyek serupa di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek tersebut ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun.
Rencana hilirisasi tersebut sejalan dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menyinggung rencana pengolahan batu bara menjadi BBM sebagai salah satu upaya menekan impor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut menyampaikan adanya rencana pemerintah untuk mengembangkan pengolahan batu bara menjadi BBM.
Bagi dunia usaha, keberhasilan program tersebut pada akhirnya akan sangat bergantung pada kombinasi antara kesiapan teknologi, ketersediaan bahan baku, kepastian pasar, keekonomian proyek, dukungan infrastruktur, insentif pemerintah, serta kemampuan Indonesia menguasai teknologi yang digunakan.
Dengan demikian, hilirisasi batu bara tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk baru, tetapi juga harus mampu membangun industri nasional yang kompetitif dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi serta produk energi dari luar negeri.
China Berpotensi Jadi Mitra Transfer Teknologi Hilirisasi Batu Bara Jadi BBM




















