Nusantara

Regenerasi Perajin Terancam, Kemenperin Catat 26 Ribu Perajin Batik Hilang

7362
×

Regenerasi Perajin Terancam, Kemenperin Catat 26 Ribu Perajin Batik Hilang

Share this article

LINTASNUSANTARANEWS.ID | SURABAYA- Di balik semakin luasnya penggunaan batik dalam kehidupan masyarakat, industri batik Indonesia menghadapi persoalan serius dalam hal regenerasi perajin. Dalam kurun 2019-2023, jumlah perajin batik disebut turun sekitar 20 persen, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu orang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Kementerian Perindustrian (Kemenperin) karena batik bukan sekadar produk fesyen, melainkan bagian dari keterampilan dan warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, berkurangnya jumlah perajin dapat menjadi ancaman bagi keberlanjutan tradisi membatik apabila tidak segera diantisipasi.
“Jika permasalahan regenerasi ini tidak segera kita tangani, maka keterampilan dan warisan leluhur membatik dikhawatirkan akan menjadi ancaman ke depan,” ujar Faisol saat membuka Pameran Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya, Rabu (30/9/2026).
Data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) menunjukkan jumlah perajin batik turun dari sekitar 131 ribu orang pada 2019 menjadi sekitar 105 ribu orang pada 2023. Artinya, terdapat sekitar 26 ribu perajin yang tidak lagi tercatat dalam periode tersebut.
Batik Bukan Sekadar Motif
Menurut Faisol, proses membatik yang banyak mengandalkan keterampilan tangan memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya. Aktivitas tersebut menjadi sumber lapangan kerja dan menopang ekonomi keluarga di berbagai daerah.
Persoalannya, peningkatan minat masyarakat terhadap batik belum sepenuhnya diikuti pertumbuhan jumlah perajin.
Di tengah perubahan tren fesyen, batik kini juga semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Produk berbasis batik tidak lagi terbatas pada pakaian formal, tetapi berkembang menjadi pakaian siap pakai, aksesori hingga berbagai produk kriya.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan lain. Masyarakat semakin sulit membedakan batik dengan kain bermotif batik yang dibuat menggunakan teknik printing.
Kemajuan teknologi memungkinkan kain printing diproduksi dengan motif yang semakin menyerupai batik, tetapi ditawarkan dengan harga lebih terjangkau.
Karena itu, Kemenperin menilai edukasi mengenai proses pembuatan batik menjadi penting. Batik tidak hanya dibedakan berdasarkan motif, tetapi juga melalui proses, keterampilan tangan serta nilai budaya yang melekat di dalamnya.
“Sudah saatnya kita memastikan agar batik tidak hanya dikenal sekadar dari motifnya, melainkan dihargai dari proses, keterampilan tangan, serta nilai budaya luhur yang menyertainya,” kata Faisol.
Dorong Inovasi Tanpa Hilangkan Karakter
Selain menjaga keberlangsungan keterampilan perajin, Kemenperin mendorong industri batik untuk terus berinovasi mengikuti perkembangan pasar.
Industri kecil dan menengah (IKM) batik didorong mengembangkan produk fesyen siap pakai, aksesori hingga kriya dengan melibatkan desainer maupun akademisi.
Diversifikasi produk diharapkan dapat membuka pasar yang lebih luas tanpa menghilangkan karakter dan nilai budaya batik.
Di sisi lain, standardisasi juga dinilai penting untuk membantu menjaga kualitas sekaligus memberikan informasi yang lebih jelas kepada konsumen. Salah satu instrumennya adalah Batikmark yang berkaitan dengan mutu fisik dan ketahanan warna produk.
Batikmark dapat membantu konsumen mengenali produk batik yang memenuhi ketentuan mutu.
Menjaga Warisan, Menyiapkan Generasi
Pameran HBN 2026 berlangsung pada 30 September hingga 4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Surabaya. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 40 peserta dan diisi berbagai agenda, mulai dari talkshow, workshop hingga penyerahan Batikmark kepada IKM.
Faisol menegaskan, keberlanjutan industri batik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, akademisi, komunitas, perbankan hingga media.
Menurutnya, pelestarian batik juga harus dilakukan dengan pendekatan yang relevan agar tetap dekat dengan generasi muda.
“Melestarikan batik berarti menjaga prosesnya, melindungi keterampilan tangan para perajinnya, merawat nilai filosofisnya, sekaligus memberikan ruang seluas-luasnya bagi batik untuk terus berinovasi agar dapat diterima pasar hari ini,” ujar Faisol.
Bagi Indonesia, tantangan batik bukan hanya bagaimana meningkatkan penjualan dan memperluas pasar, tetapi juga memastikan tangan-tangan yang menjaga tradisi membatik tetap ada dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *