EkonomiPolitik

Menakar Ambisi Indonesia Keluar dari Jebakan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

1732
×

Menakar Ambisi Indonesia Keluar dari Jebakan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Share this article

LINTASNUSANTARANEWS.ID | JAKARTA- Pemerintah bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyepakati Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 untuk dilanjutkan ke pembahasan tingkat II di rapat paripurna. Salah satu target utama yang menjadi sorotan adalah ambisi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6 persen pada 2027.

Target tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir cenderung bergerak di sekitar level 5 persen, di luar periode pandemi Covid-19.

Jika target 6 persen tercapai, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan memasuki level yang lebih tinggi dibandingkan tren pertumbuhan beberapa tahun terakhir. Namun, upaya keluar dari pola pertumbuhan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan belanja maupun investasi.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai asumsi makroekonomi dalam APBN harus dilihat sebagai satu kesatuan. Pertumbuhan, inflasi, nilai tukar, investasi, dan defisit memiliki hubungan yang saling memengaruhi.

Menurut dia, pertumbuhan yang lebih tinggi akan mendorong kenaikan permintaan melalui belanja pemerintah, investasi, maupun konsumsi rumah tangga. Persoalan dapat muncul apabila peningkatan permintaan tidak diimbangi kemampuan produksi dalam negeri.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan harga, mendorong kebutuhan impor, dan memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan maupun nilai tukar. Jika tekanan inflasi dan rupiah meningkat, ruang kebijakan moneter juga dapat menjadi lebih terbatas.

“Makanya dari dulu tuh misalnya Pak Boediono atau Pak Darmin itu selalu hati-hati, karena apa? Karena supply kita enggak secepat itu meresponsnya, terutama karena sebagian besar produksi kita berasal dari impor,” kata Deni kepada Bisnis, Jumat (25/9/2026).

Tantangan Investasi dan Produktivitas

Investasi menjadi salah satu tumpuan pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen. Namun, Deni mengingatkan persoalan efisiensi investasi masih menjadi tantangan.

Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi investasi adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Semakin tinggi ICOR, semakin besar kebutuhan investasi untuk menghasilkan tambahan output ekonomi.

Deni menilai Indonesia masih menghadapi persoalan produktivitas sehingga peningkatan investasi perlu dibarengi dengan efisiensi dan peningkatan kapasitas produksi.

Menurutnya, target pertumbuhan yang ambisius perlu tetap mempertimbangkan kondisi struktural perekonomian nasional.

“Bagus memberikan angka-angka yang membuat kita optimis, tapi dia harus realistis, karena kalau dia terlalu jauh dari realita, pasar akan meragukannya, yang membuat malah kontraproduktif bagi kita,” ujarnya.

Karena itu, menurut Deni, Indonesia membutuhkan perubahan struktural untuk meningkatkan kapasitas pertumbuhan, bukan sekadar mendorong permintaan.

“[Pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen] itu steady state-nya perekonomian Indonesia, kecuali kurvanya dinaikkan dengan cara technological upgrading, ada peningkatan produktivitas, itu baru bisa naik,” katanya.

Teknologi Jadi Kunci

Peningkatan produktivitas melalui teknologi kemudian menjadi salah satu jalan yang dinilai penting untuk memperbesar kapasitas ekonomi nasional.

Pandangan tersebut sejalan dengan agenda pemerintah dan Bank Indonesia yang mendorong transformasi digital sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Indonesia juga perlu menciptakan teknologi dan menghasilkan talenta digital yang mampu meningkatkan produktivitas.

“Jangan hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi kita juga harus mampu menjadi produsen yang menciptakan teknologi yang impactful dan inclusive,” ujar Destry dalam rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit and Expo (IFSE) 2026 di Jakarta.

Bank Indonesia sendiri mengembangkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) sebagai salah satu wadah untuk mendorong inovasi dan pengembangan talenta digital. BI menyebut transformasi digital perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas, daya saing, serta manfaat nyata bagi masyarakat.

AI Mulai Masuk ke Dunia Usaha

Transformasi teknologi juga mulai diterapkan langsung oleh pelaku usaha, termasuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mencontohkan pemanfaatan artificial intelligence (AI) melalui fitur merchant AI assistant. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu pelaku usaha menganalisis tren penjualan, menentukan menu yang diminati konsumen, hingga memperkirakan kebutuhan bahan baku.

Menurut Neneng, pemanfaatan teknologi tersebut juga dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi operasional.

Dalam kesempatan yang sama, Neneng menyebut terdapat merchant rumahan yang secara rutin menggunakan asisten AI dan mencatat peningkatan penjualan hingga 15 persen.

Digitalisasi Pasar dan Perluasan Ekspor

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti juga menilai adaptasi teknologi penting untuk meningkatkan produktivitas pelaku usaha.

Kementerian Perdagangan mendorong digitalisasi pasar rakyat melalui sistem pembayaran digital, termasuk QRIS, serta memberikan pelatihan agar pedagang dapat memanfaatkan kanal penjualan daring.

Selain pasar domestik, pemerintah juga mendorong UMKM memperluas pasar melalui platform InaExport, yang menjadi etalase digital untuk mempertemukan produk Indonesia dengan calon pembeli dari luar negeri.

Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar tidak hanya bergantung pada pasar konvensional.

Dari Pengguna Menjadi Produsen Teknologi

Destry menilai Indonesia memiliki modal sumber daya manusia yang cukup besar untuk mengembangkan inovasi digital. Tantangannya adalah memastikan talenta tersebut memperoleh dukungan ekosistem, pendidikan, pembiayaan, dan akses terhadap industri.

Dalam program PIDI yang dikembangkan BI, ribuan proposal inovasi teknologi telah masuk dan kemudian melalui proses seleksi serta kurasi. Sejumlah inovasi terpilih diarahkan untuk menjawab kebutuhan konkret industri dan pemerintahan.

Salah satu contoh yang dikembangkan adalah penggunaan AI untuk membantu mendeteksi potensi penerimaan pajak daerah dengan mengombinasikan data, pemetaan spasial, dan informasi penerimaan pajak.

Teknologi tersebut dapat membantu pemerintah daerah membandingkan potensi objek pajak dengan penerimaan aktual sehingga terdapat ruang untuk meningkatkan optimalisasi pendapatan daerah.

Tantangan Menuju Pertumbuhan 6 Persen

Target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 pada akhirnya bukan hanya persoalan menaikkan angka belanja pemerintah atau investasi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dan kapasitas produksi nasional sehingga pertumbuhan tidak menghasilkan tekanan baru terhadap inflasi, impor, nilai tukar, maupun stabilitas ekonomi.

Bank Indonesia sendiri menempatkan transformasi digital, inovasi dan pengembangan talenta sebagai bagian penting dari upaya meningkatkan produktivitas serta daya saing ekonomi.

Dengan demikian, upaya keluar dari pola pertumbuhan sekitar 5 persen membutuhkan perubahan pada sisi penawaran. Teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, efisiensi investasi, hilirisasi, penguatan industri domestik, serta perluasan pasar menjadi sejumlah faktor yang menentukan.

Target 6 persen dalam APBN 2027 telah ditetapkan sebagai ambisi pemerintah. Tantangan berikutnya adalah memastikan target tersebut tidak sekadar menjadi angka dalam dokumen anggaran, melainkan ditopang peningkatan produktivitas yang mampu mengubah kapasitas fundamental perekonomian Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *